Dulohupa.id – Umat Hindu etnis Bali di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, kembali menggelar upacara Ngaben Massal (Ngaben Ngerit) yang dipusatkan di Sub Subak Krama Desa Adat Panca Kerti, Kota Raya timur, Kecamatan Mepanga, Sabtu (29/8/2026).
Upacara keagamaan dan adat ini berlangsung khidmat dengan dihadiri langsung oleh Bupati Parigi Moutong, H.Erwin burase, S.kom, jajaran DPRD, pengurus PHDI, WHDI, serta tokoh masyarakat setempat.
Pelaksanaan Ngaben Masal ini menjadi wujud solidaritas dan gotong royong antarumat, khususnya bagi keluarga yang kurang mampu, guna memenuhi kewajiban spiritual mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya.
Berdasarkan laporan Ketua Panitia Pelaksana, upacara Ngaben Masal kali ini diikuti oleh sebanyak 12 jenazah (sawa). Rincian asal peserta pengabenan tersebut terdiri dari:
– Desa Adat Panca Kerti / Kota Raya : 5 jenazah
– Kabupaten Buol: 3 jenazah
– Kabupaten Toli-Toli: 1 jenazah
– Marisa (Gorontalo): 1 jenazah
– Desa Buntuna: 1 jenazah
– Swakarsa: 1 jenazah
Dalam sambutannya, perwakilan tokoh masyarakat sekaligus Ketua PHDI Kabupaten Parigi Moutong , I Made Astina, menegaskan pentingnya memaknai tradisi Ngaben sebagai sarana pengabdian spiritual sekaligus penguat rasa persatuan di tanah rantau.
”Pengabenan ini adalah kewajiban bagi kita umat Hindu, khususnya etnis Bali. Bagi yang mampu bisa melaksanakan secara mandiri, namun bagi masyarakat yang kurang mampu, Ngaben Masal ini menjadi solusi yang sangat membantu,” ujar I Made Astina di hadapan para umat yang hadir.
Made Astina juga mengingatkan hakikat utama dari prosesi Ngaben, yakni mengembalikan badan kasar (Panca Maha Bhuta) ke asalnya serta mengantarkan Atman agar menyatu kembali dengan Brahman (Tuhan). Menurutnya, upacara ini menjadi pengingat bagi seluruh umat akan hakikat kehidupan yang fana.
”Semua yang kita miliki, termasuk diri kita sendiri, adalah titipan Tuhan. Hari ini wajah kita tampan atau cantik, tapi kalau Tuhan berkehendak dan napas kita dicabut, semuanya selesai. Tidak ada mayat yang cantik atau ganteng. Maka selagi masih hidup, mari kita bersama-sama berkontribusi dan berbuat amal kebaikan,” lanjutnya.
Lebih jauh, ia menekankan prinsip “di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”. Menurutnya, pelaksanaan adat dan tradisi Bali di Sulawesi Tengah telah mengalami penyesuaian serta modifikasi tanpa mengurangi nilai-nilai luhur dan kesucian ritualnya.
”Bali adalah kenangan dan asal-usul kita, tetapi hari ini bumi yang kita pijak adalah Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Kita sepakat bahwa kita adalah warga Parigi Moutong, suku Bali beragama Hindu yang berkiprah dan membangun Parigi Moutong. Mari kita sama-sama banggakan daerah ini,” tegas Made Astina.
Upacara Ngaben Masal di Parigi Moutong ini diharapkan terus menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi, menjaga kerukunan antarumat beragama, serta melestarikan kebudayaan di tengah keberagaman masyarakat Sulawesi Tengah.
Reporter: Kadek Sugiarta











