Dulohupa
Portal Berita Online Gorontalo

- Advertisement -

Telekonseling di Masa Pandemi: Melihat Lewat Telinga

Dulohupa.id – Melihat adanya fenomena kecemasan dan ketakutan yang mengintai masyarakat di masa Pandemi Covid-19, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) berinisiatif membuka layanan telekonseling gratis. Para psikolog pun harus menyesuaikan segala keterbatasan layanan via daring itu.

Dika Puspa Mayangsari  sedang santai bercengkrama dengan keluarga, saat telepon genggam miliknya berdering lama. Ketika mendengar suara lusuh dari seorang perempuan di ujung telepon, dia segera bergegas menuju kamar, mengunci diri, menjauh dari anak-anaknya.

“Entah kenapa tubuh saya terasa sakit kalau mendengar informasi tentang Korona (Covid-19),” ujar perempuan di ujung telepon, medio April 2020.

Dika mengatur posisi, memastikan suasana di dalam kamar benar-benar hening, sunyi dan dengan saksama mulai mendengarkan keluhan dari seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kota Gorontalo tersebut.

Itu merupakan kali kedua Dika menerima telepon dari warga, sejak dia beserta rekan-rekan sejawatnya di Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) membuka layanan konsultasi gratis di masa Pandemi Covid-19, pada akhir Maret lalu.

Kepada Dika, perempuan itu bercerita bahwa selama pandemi ini–atau setidaknya dalam sebulan bulan terakhir–dia sering merasakan sesak nafas, jantungnya berdebar kencang, berkeringat dingin, hingga merasa sakit perut.

Lantaran khawatir atas kondisinya, klien tersebut mendatangi dokter penyakit dalam. Ia sempat dirontjen dan diambil darah. Hasilnya, menurut dokter ia justru baik-baik saja. Tapi ia tetap merasakan sakit, meskipun sudah menenggak obat-obatan dari dokter.

“Saya dengarkan dulu semua keluh dan ceritanya. Ternyata dia terpapar oleh informasi-informasi tentang Covid-19. Terutama dari sosial media dan Whatsaap Group (WAG),” ujar Dika, saat diwawancarai via seluler, Rabu (14/10/2020).

Agar tidak menguras pulsa si klien, Dika segera menjelaskan gejala-gejala kecemasan yang dialami si klien. Kemungkinannya ia terserang psikosomatis. Di tengah wabah seperti ini, gangguan psikosomatis memang lumrah terjadi.

Istilah gangguan psikosomatis digunakan untuk menggambarkan penyakit fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor mental, seperti stres dan kecemasan.

Dika memulai terapi, diawali dengan teknik nafas relaksasi. Klien diinstruksikan menarik nafas dan menghembuskan nafas secara perlahan-lahan. Selain teknik itu, Dika juga sering menggunakan teknik khusus seperti grounding: Mengajak klien untuk membumi, fokus dan tidak memikirkan kecemasan-kecemasan lain.

“Akhirnya dia merasa lebih rileks. Saya mengajari dia teknik-tekniknya. Agar ketika dia mulai merasa cemas, dia bisa melakukannya sendiri di rumah,” terang Dika.

Selama melakukan layanan konseling gratis secara online, diakui Dika banyak kendala-kendala seperti hilang jaringan, kemudian ketersediaan pulsa atau kuota dari klien, kondisi ruangan, dan yang terpenting adalah terbatasnya indikator-indikator untuk memahami lebih jauh kondisi klien.

Karena, lanjut Dika, selain melakukan konseling lewat bicara, mereka juga terbiasa melakukan observasi mulai dari ekspresi maupun gerak tubuh klien. Sebab antara ucapan dan gerakan tubuh terkadang tidak sesuai. Alhasil dia pun hanya bisa mengandalkan intonasi dari suara klien.

“Kalau di kung fu ada istilah melihat lewat telinga kan. Itu benar-benar kejadian,” katanya

 

Belum Dimaksimalkan Warga

HIMPSI wilayah Gorontalo membuka layanan konsultasi gratis sejak tanggal 27 Februari 2020. Total, adal 13 petugas yang tergabung dalam satuan tugas (Satgas) ini, terdiri dari 5 psikolog dan sisanya mahasiswa S1 yang telah memiliki kemampuan di bidang psikologi. Pelayanan dilakukan setiap hari Senin-Jumat, dari pukul 10.00 sampai 16.00 Wita.

Selain di Gorontalo, gerakan semacam ini juga dilakukan HIMPSI di wilayah lain. Selain memberikan konsultasi gratis, ada juga yang memberikan donasi berupa alat pelindung diri (APD) untuk petugas kesehatan.

Dika dipilih menjadi ketua Satgas HIMPSI wilayah Gorontalo. Dika bilang, meskipun gratis, layanan ini belum benar-benar dimaksimalkan oleh warga Gorontalo. Padahal, informasi terkait kegiatan ini sudah disebarluaskan, baik melalui media sosial maupun siaran pers di media-media.

“Waktu awal dibuka masih lumayan lah. Seminggu, bisa ada dua hingga tiga warga yang melakukan konsultasi,” imbuhnya.

Setelah pemberlakuan new normal, sambung Dika, warga yang memanfaatkan layanan tersebut cenderung berkurang, bahkan tidak ada sama sekali.  Menurut alumnus Universitas Padjajaran (Unpad) ini, fenomena ini memang sering dialaminya sejak ia bertugas di Gorontalo awal tahun 2019.

“Warga enggan melakukan konseling karena malu dibilang orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).”

 

Kontribusi Psikolog

Setelah Presiden Joko Widodo menetapkan darurat Covid -19 pada awal Maret 2020 lalu, komunitas psikolog seperti Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPSKI) terjun langsung membuat satuan tugas (Satgas) nasional: Satgas untukPenanggulangan Covid-19 IPK.

Pada diskusi panel dan media gathering bertema “Kiprah Psikologi Klinis Untuk Indonesia di Masa Pandemi”, Jumat (23/10/2020) kemarin, Ketua Satgas IPK , Annelia sari Sani menerangkan bahwa ada 194 psikolog di 27 wilayah di Indonesia yang terlibat aktif melakukan konseling dan pendataan.

Dari data Satgas IPK, setidaknya ada ribuan klien yang pernah melakukan konseling, baik melalui tatap muka maupun telekonseling. Masing-masing 14.619 klien individu, 927 klien keluarga dan 191 klien berbasis komunitas.

“Yang paling memprihatinkan, berdasarkan periode waktu, terjadi peningkatan yang signifikan terhadap klien anak,” ungkap Annelia.

Metode telekonseling yang paling banyak digunakan, kata Annelia, dalam bentuk teks berupa chat, pesan singkat maupun email. Kemudian dalam bentuk audio. Sementara prevalensi masalah utama yang menjadi penyebab adalah hambatan belajar, masalah kedua stres umum, kecemasan dan lain sebagainya.

“Kami juga melakukan screening kondisi psikologis kepada 2.111 tenaga kesehatan dan 1.378 pasien, hingga bulan september 2020,” ungkap dia.

Dalam diskusi yang disiarkan langsung di channel Youtube IPSKI itu, hadir Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia, yang juga merupakan Ketua Satgas Nasional Penanggulangan Covid 19, Doni Monardo.

Doni mengapresiasi solidaritas para psikolog di seluruh wilayah Indonesia, yang telah banyak berkontribusi di masa pandemi ini. Dia menuturkan salah satu peran besar para psikolog, yakni, pada waktu pemulangan 283 warga negara indonesia (WNI) dari Wuhan, Cina.

“Saat mereka dilepas dari Natuna, setelah dikarantina, mereka kembali ke sanak keluarga, ke kampung halaman dengan menunjukkan optimisme dan rasa percaya diri yang tinggi. Itu semua tidak terlepas daripada peran para psikolog,” kata Doni.

Dia menambahkan, kontribusi para psikolog tidak hanya ditunjukan di masa pandemi ini saja. Di banyak agenda-agenda penanggulangan kebencanaan nasional, psikolog selalu mengambil bagian.

“Dalam kondisi wabah, kepanikan terjadi luar biasa. Mereka telah menjadi bagian yang sangat penting untuk membuat masyarakat merasa lebih tenang,” terang dia. ***

 

Penulis: Franco Bravo Dengo – Jurnalis Lepas Gorontalo