Dulohupa.id-Wakil Bupati Pohuwato, Suharsi Igrisa mengatakan, bahwa saat ini angka kematian bayi dan ibu di Pohuwato harus menjadi prioritas untuk ditangani oleh pemerintah daerah. Mengingat, Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator derajat kesehatan pada suatu wilayah.
“Sebanyak 85% ibu hamil atau bersalin mengalami proses normal dan 15% mengalami komplikasi dan jika tidak ditangani akan berdampak terhadap Angka Kematian Ibu (AKI),” ujar Suharsi pada saat membuka acara pelatihan asuhan persalinan normal (APN) di Hotel New Rahmat Gorontalo, Selasa (16/3).
Suharsi menuturkan, tingkat kematian ibu di Pohuwato sendiri terbilang masih tinggi, erat kaitannya faktor medis dan non medis. Katanya juga, pertolongan saat ini masih ada yang dilakukan oleh dukun bayi yang menggunakan cara- cara tradisional sehingga banyak membahayakan keselamatan ibu dan bayi.
“Masih tingginya AKI dan AKB di Kabupaten Pohuwato mendapat perhatian besar dari berbagai pihak. AKI berdasarkan data kesehatan ibu dan anak Dinas Kesehatan kabupaten Pohuwato Tahun 2017 yaitu 427/100.000 KH atau ada 11 Kasus Kematian. Sedangkan pada tahun 2018 ada 5 kasus atau 193/100.000 KH, tahun 2019 ada 5 kasus atau 166/100.000 KH dan Tahun 2020 ada 4 kasus atau 156/100.000 KH,” tuturnya.
Meskipun pada tahun 2020 kasusnya menurun, kata Suharsi, masih tetap menjadi perhatian untuk ditangani. Dan untuk kematian bayi neonatal sampai pada saat ini masih terbilang cukup tinggi. Penyebab utama kematian adalah komplikasi pada kehamilan, persalinan dan nifas yang tidak tertangani dengan baik dan tepat waktu dan kegawatdaruratan ibu hamil dan melahirkan banyak terjadi pada ibu hamil yang sulit menjangkau sarana kesehatan.
Menurut Suharsi juga, faktor lain yang berkontribusi terhadap kematian ibu, secara garis besarnya dikelompokkan menjadi penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung adalah faktor yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas seperti perdarahan, pre eklampsi/eklampsi, infeksi persalinan macet dan abortus.
“Penyebab tidak langsung kematian ibu adalah faktor-faktor yang memperberat keadaan ibu seperti EMPAT TERLALU (Terlalu muda, Terlalu Tua, Terlalu sering melahirkan dan terlalu dekat jarak kelahiran). Faktor lain yang berpengaruh adalah ibu hamil yang menderita penyakit menular seperti HIV/AIDS, Malaria, TBC dan Penyakit yang tidak menular seperti DM, Jantung, gangguan jiwa dan kekurangan gizi,” jelasnya.
Begitupun, dengan jumlah kasus kematian bayi pada tahun 2017 ada 38 kasus atau 14,7/1000 Kelahiran hidup, meskipun masih terjadi kasus, namun, angka ini masih di bawah rata-rata Nasional yaitu 32/1000 Kelahiran hidup dan berada di zona hijau, katanya.
“Meskipun demikian, untuk tetap menekan angka kematian bayi berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah daerah Kabupaten Pohuwato sehingga sampai dengan saat ini jumlah kasus kematian bayi terus menurun sampai pada angka 16 kasus atau 9,5/1000 Kelahiran Hidup,” tambahnya.
Ia juga menambahkan, adapun upaya yang telah dilaksanakan pemerintah daerah dalam rangka menurunkan Angka Kematian Ibu dan bayi ialah; melakukan pendampingan Ibu hamil dan Bayi yang melibatkan Tim Penggerak PKK dan dasawisma, mulai mendeteksi Ibu Hamil Resiko tinggi, mengadakan rumah tunggu kelahiran yang bertujuan untuk mendekatkan akses ibu hamil ke pelayanan kesehatan.
“juga memberikan pelayanan kesehatan Ibu Hamil secara terpadu, memberikan Peningkatan Capacity Bidan dan Petugas gizi Puskesmas melalui Pelatihan Asuhan Persalinan Normal dan Orientasi Pelayanan Maternal dan Neonatal (ANC, PNC dan Neonatus Esensial, dan juga menjalin Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi,” imbuhnya.
Reporter: Zulkifli Mangkau











