Scroll Untuk Lanjut Membaca
banner
INFO COVID-19PERISTIWA

Selama Pandemi, 250 Siswa SMA di Gorontalo Memilih Menikah

×

Selama Pandemi, 250 Siswa SMA di Gorontalo Memilih Menikah

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

Dulohupa.id- Sedikitnya 480 siswa SMA sederajat di Gorontalo dinyatakan putus sekolah selama pandemi Covid-19. Dari jumlah tersebut, 250 siswa putus sekolah karena memilih menikah. 

Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo, Wahyudin Katili menjelaskan, bahwa keputusan itu diambil oleh mahasiswa, karena sistem pembelajaran yang beralih ke sistem daring. 

“Dari hasil evaluasi kami di awal tahun 2021 kurang lebih ada sekitar 480 siswa dari 48 ribu siswa SMA, SMK dan SLB putus sekolah. Dan dari total 480 siswa tersebut ada 250 orang siswa putus sekolah karena menikah.” ungkapnya pada konferensi pers di Hotel Maqna Selasa (6/10/21).

Karena itu, untuk mencegah lebih banyak lagi siswa putus sekolah, pihaknya pada pertengahan 2021 ini sudah memberlakukan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah. Meski begitu, dengan strategi preventif penularan Covid-19, pihaknya hanya mengizinkan sekolah yang berada di wilayah berkategori zona hijau penyebaran Covid-19. 

Selain itu, pihaknya juga mensyaratkan siswa yang mengikuti PTM, harus sudah menjalani vaksinasi Covid-19 minimal tahap pertama. Selain itu, juga berkomitmen menerapkan protokol kesehatan. 

Ia menjelaskan, PTM juga untuk mengembalikan perilaku normal layaknya anak sekolah. Sebab, selama pandemi Covid-19, para siswa banyak yang perilakunya berubah. Semisal tidak lagi bangun pagi, tidak mandi pagi, tidak berolahraga, serta susah tidur malam. 

“Hal itu dikarenakan sudah lama mereka tidak melakukan sekolah tatap muka. Nah untuk mengantisipasi perubahan tingkah laku ini, saat ini kami mengupayakan agar sekolah tatap muka tetap dilaksanakan, namun tentunya harus tetap mematuhi protokol kesehatan.” Jelasnya.

Penerapan PTM ini ia berharap, mampu membangkitkan kembali semangat siswa, sehingga mengurangi potensi bertambahnya jumlah anak putus sekolah.**