Scroll Untuk Lanjut Membaca
PERISTIWA

Protes Kebijakan Rektor, Mahasiswa UNG Gelar Aksi Demonstrasi

×

Protes Kebijakan Rektor, Mahasiswa UNG Gelar Aksi Demonstrasi

Sebarkan artikel ini
Sejumlah mahasiswa yang memprotes Rektor UNG, Eduart Wolok/Dulohupa-Yusuf Konoli

Dulohupa.id – Sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) siang tadi, Jumat (11/12) melakukan aksi protes di depan Gedung Rektorat UNG. Para pedemo ini memaksa bertemu Rektor UNG, Eduart Wolok, meski Eduart sendiri tidak berada di lokasi.

Gunawan Rasyid sebagai koordinator aksi tersebut mengungkapkan, jika aksi protes keras yang mereka lakukan siang itu adalah buntut dari kebijakan rektor semena-mena kepada mahasiswa. Kata dia, dalam sejumlah keputusan rektor, jarang melibatkan mahasiswa. Kendati, keputusan tersebut banyak merugikan mereka.

Salah satunya kata Gunawan adalah syarat untuk menjadi pimpinan organisasi mahasiswa (ormawa) di lingkungan UNG. Dalam keputusannya, Eduart Wolok tak mengizinkan mahasiswa ber-Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) D dan E.

Padahal, dalam berorganisasi di kampus, mahasiswa berpedoman pada Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 155 Tahun 1998 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi. Dalam aturan tersebut ada sebuah ruang yang luas kepada mahasiswa untuk berkegiatan. Di sana dinyatakan bahwa kegiatan kemahasiswaan diselenggarakan dengan prinsip dari, oleh, dan untuk mahasiswa.

Sehingga kata dia, pihak kampus sudah mengurusi urusan yang seharusnya menjadi urusan mahasiswa itu sendiri. Kebijakan yang mestinya lahir dari mahasiswa. Selain itu, ia menganggap bahwa Eduart Wolok mengebiri hak mereka untuk berorganisasi di kampus.

“Permendikbud Nomor 155 tahun 1998 di situ ada berbenturan antara SK dengan Permendikbud, Pasal 2 bahwa keluasan itu dari mahasiswa oleh mahasiswa untuk mahasiswa. Kemudian pasal 6 dan 7 sudah jelas bahwa mekanisme tata kelola organisasi mahasiswa itu diatur oleh mahasiswa (itu sendiri),”ujar Gunawan saat memafarkan tuntutan mereka di halaman Rektorat UNG.

Kata Gunawan sebelum mengambil keputusan yang ada, harus ada pertemuan antara mahasiswa dengan pimpinan. Terutama mengambil keputusan kekosongan sekretariat ormawa yang ada do kampus UNG.

Selain itu, keputusan Eduart yang mendapat protes adalah larangan beraktivitas malam hari di dalam kampus. Keputusan untuk tidak memperbolehkan mahasiswa sama sekali beraktivitas di kampus kata dia sangat merugikkan mereka. Apalagi ketika pemilihan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sudah di depan mata.

“Setahu saya ada kekacauan terjadi di universitas belakangan ini, tapi memang harus juga ada semacam ketidakberatan yang diperoleh dari mahasiswa. Harusnya ketika ada kekacauan UNG itu jangan limpahkan kepada mahasiswa. Harusnya kebijakan yang itu bisa menguntungkan mahasiswa contoh bisa malam tapi dengan catatan jangan terlalu berkerumun,” kata Gunawan.

Selain itu, berikut sejumlah poin-poin yang diprotes oleh sejumlah mahasiswa tersebut:

  1. Tolak SK Rektor tentang ormawa
  2. Tolak poin IPK sebagai syarakat pimpinan dan pengurus ormawa
  3. Tolak poin tidak adanya nilai D dan E sebagai syarakat pimpinan dan pengurus ormawa
  4. Tolak mubes dan pemilihan terkesan buru-buru dan tidak sesuai masa jabatan
  5. tolak mekanisme pemilihan pimpinan ormawa (HMPS, HMJ, Senat Mahasiswa, UKM BEM) secara e-Voting
  6. Tolak SE Rektor tentang mengosongkan sekretariat ormawa pada malam hari.
  7. Melibatkan hak mahasiswa dalam merancang ormawa UNG.
Reporter: Yusuf Konoli