Scroll Untuk Lanjut Membaca
LINGKUNGANPEMPROV GORONTALO

Peserta Pelatihan Ikut Sesi Praktek Menghitung Cadangan Karbon di Gorontalo

×

Peserta Pelatihan Ikut Sesi Praktek Menghitung Cadangan Karbon di Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Penghitungan Cadangan Karbon
Suasana peserta melakukan praktek pelatingan menghitung cadangan karbon di taman Moodu, Kota Gorontalo. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Pokja Results Based Payments REDD+ Green Climate Fund Output 2 Provinsi Gorontalo melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Gorontalo bekerjasama dengan BPDLH dan Wahana Mitra Mandiri melaksanakan kegiatan Pelatihan Penghitungan Cadangan Karbon bagi Pejabat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Gorontalo, instansi terkait lainnya tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota serta UPT Kementerian Kehutanan RI.

Pelatihan ini untuk mendukung implementasi pelaksanaan Results Based Payments REDD+ Green Climate Fund Output 2 Provinsi Gorontalo sebagai bagian dari komitmen Pemerintah Indonesia dalam penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan, serta langkah awal dalam koordinasi dan penyamaan persepsi terkait program deforestasi dan degradasi hutan diwilayah Provinsi Gorontalo.

Usai diberikan materi pada Selasa kemarin, para peserta pelatihan mengikuti sesi praktek menghitung cadangan karbon yang dilaksanakan di Taman Kota Moodu, Kelurahan Moodu Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo pada Rabu (29/10/2025).

Mereka dilatih untuk menghitung karbon yang berada di bawah permukaan tanah maupun penghitungan karbon untuk kayu yang mati atau rusak.

Pemateri Dr Iswan Dunggio mengatakan dalam menghitung cadangan karbon terdapat 3 metode penghitungan cadangan karbon dan emisi karbon yakni Tier 1, Tier 2 dan Tier 3 yang akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Tier 1 : dirancang untuk perhitungan yang sederhana, Dimana persamaan-persamaan dan nilai-nilai parameter default (misalnya, faktor-faktor emisi dan perubahan simpanan karbon) telah disediakan dan dapat digunakan. Penggunaan metode ini memerlukan data aktivitas yang spesifik suatu negara, tetapi untuk Tier 1 seringkali ada sumber data aktivitas yang tersedia secara global (misalnya, laju deforestasi, statistik produksi pertanian, peta tutupan lahan global, pemakaian pupuk, data populasi
ternak, dan lain-lain), meskipun biasanya data kasar.

2. Tier: dapat menggunakan pendekatan metodologi yang sama dengan Tier 1, tetapi menggunakan faktor-faktor emisi dan perubahan simpanan yang spesifik negara atau wilayah. Faktor-faktor emisi spesifik negara ini lebih sesuai untuk iklim wilayah, penggunaan lahan dan kategori ternak di negara
tersebut.

3. Tier 3; merupakan metode-metode orde tinggi, termasuk model-model dan sistem-sistem pengukuran inventarisasi yang dibuat untuk mengatasi keadaan nasional, diulangi dari waktu ke waktu, dan didorong oleh adanya data aktivitas dengan resolusi tinggi dan dikelompokkan pada tingkat sub-nasional. Metode-metode yang lebih tinggi memberikan perkiraan dengan kepastian yang lebih besar dibandingkan dengan tier yang lebih rendah.

Iswan menejelaskan metode perhitungan cadangan Karbon tersebut, peserta melakukan pengukuran Langsung (Destructive Sampling). Jika Mengukur cadangan karbon di hutan dan lahan pertanian cukup mudah dan dapat dilakukan sendiri, kapan saja dibutuhkan dan peralatan yang digunakan juga sederhana. Hasil akhir penghitungan cadangan karbon menggunakan rumus-rumus tertentu.

Reporter: Enda