Scroll Untuk Lanjut Membaca
EKONOMIGORONTALO

Pengrajin Jepang Tertarik Kimono Dikolaborasikan dengan Karawo Ikat

×

Pengrajin Jepang Tertarik Kimono Dikolaborasikan dengan Karawo Ikat

Sebarkan artikel ini
Karawo Ikat
Ujang Supriadi saat memperkenalkan Kimono Jepang dengan harga 85 juta (yang berada ditengah berwarna Toska).

Dulohupa.id – Kerajinan unggulan Gorontalo Karawo Ikat menarik perhatian pengrajin Jepang untuk Dikolaborasikan dengan Kimono yakni baju khas Jepang.

Konsultan Pengembangan UMKM Keuangan Inklusif Syariah, Ujang Supriadi mengatakan bahwa baru-baru ini ada ketertarikan Pengrajin Jepang melakukan kerjasama dengan beberapa kelompok UMKM pengrajin Karawo Ikat. Hal ini dikarenakan Karawo Ikat memiliki kualitas lebih bagus dan lebih tahan lama.

“Beberapa hari lalu, mereka telah mengirimkan Kimono ke Gorontalo, mereka minta Kimono itu untuk kita Karawo dengan menggunakan Karawo Ikat. Saat ini, Kimono ini kami pajang di Galery UMKM Bank Indonesia itu hanya ada 1 buah dan harganya itu mencapai 85 Juta Rupiah karena jenis kain yang digunakan adalah kain sutra,” Tutur Ujang Supriadi.

Namun, Ujang mengungkapkan bahwa saat ini belum ada UMKM yang berani mengambil resiko untuk melaksanakan permintaan tersebut karena pengrajian Karawo di Gorontalo belum terbiasa dengan penggunaan kain dengan harga yang tinggi. Hal ini dikarenakan adanya tanggungjawab jika terjadi sedikit kesalahan dalam pengerjaan yang tentu harus diganti, sementara harga bahan yang digunakan sangat fantastis.

“Sementara Kimono ini menjadi pajangan, kalaupun nanti si pengerajin sanggup dengan kualitas kain ini, mungkin harganya akan lebih tinggi, kalau biasanya produk karawo kita paling mahal diharga 3 – 5 jutaan. Kalau UMKM nya sudah sering keluar negeri maka harga jualnya juga sudah lumayan karena relasi pasarnya sudah luas dan itu masih menggunakan jenis kain katun. Harganya juga tergantung model dan tingkat kerumitannya,” Ungkap Ujang

Selain itu, Ujang juga mengatakan ada yang namanya G-Karawo yang telah bekerjasama dengan mengekspor ke Malaysia. Dirinya menjelaskan bahwa UMKM dibagi menjadi empat yaitu Potensial, sukses, digital dan yang terakhir adalah ekspor. UMKM binaan Bank Indonesia sendiri berfokus pada ekspor produk.

Sementara itu, dirinya menyebutkan kelemahan UMKM biasanya terletak pada proses produksi, persyaratan legalitas, pasar, dan juga pemodalan.

Reporter: Kris