Untuk Indonesia

Menunggak 2,5 Miliar di Bank, Toko Eca Swalayan Limboto Disita

Dulohupa.id- Sebuah toko swalayan bernama Eca Swalayan di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, terpaksa harus disita oleh pihak pengadilan setempat, karena pemiliknya berdasarkan aduan pihak bank, tak mampu menyelesaikan hutang sebesar 2,5 miliar rupiah. 

Nonton videonya:

Pantauan Dulohupa.id, sekitar pukul 10.30 WITA, tim gabungan yang terdiri dari, tim anggota Eksekusi PN Limboto, dan juga dibantu oleh pengamanan dari anggota Kepolisian Polres Gorontalo langsung mengamankan, dan mengangkut satu persatu barang-barang dari toko tersebut. 

Justaman Van Gobel selaku Juru Eksekusi  PN Limboto ditemui di lokasi mengatakan, penyitaan tersebut berdasarkan surat pemberitahuan dari pihak Bank BRI Cabang Gorontalo kepada PN Limboto dengan Nomor  1/PDT.EKS/2020/PN, untuk melakukan tindakan eksekusi toko Eca Swalayan. 

“Eksekusi ini dilakukan sebab pihak toko melakukan pinjaman sebesar Rp 2,5 Miliar kepada pihak Bank BRI Cabang Gorontalo. Jadi, pihak termohon sudah ingkar janji ataupun tidak bisa lagi melakukan pembayaran kepada pihak bank tersebut, sehingga dilakukan eksekusi ini,” ungkap Justaman kepada Dulohupa.id

Lebih lanjut Justaman menyampaikan, sebelum dieksekusi, pihaknya sudah melakukan panggilan kepada kedua belah pihak untuk menyelesaikan sengketa tersebut. Akan tetapi pertemuan itu tidak menemukan titik terang. 

“Tapi, sebelum kami melakukan eksekusi ini, sebelumnya sudah memberitahukan kepada pihak termohon eksekusi ataupun pemohon eksekusi, tiga hari sebelum eksekusi dilakukan. Jadi, eksekusi ini harus dilakukan secepatnya,” ujar Justaman. 

Sementara itu, Kuasa Hukum Bank BRI Cabang Gorontalo, Ronal Van Mansyur Nur mengatakan, pihaknya sudah menempuh berbagai cara agar penyitaan itu bisa dihindari. 

Ia pun merincikan, bahwa tercatat sejak tahun 2018, pemilik toko tersebut mendapatkan pinjaman sebesar Rp. 2,5 miliar dari pihak bank. Dari jumlah itu, pemilik toko Eca berjanji akan melunasi dengan cara mencicil. Namun, rupanya perjanjian itu tidaklah ditepati. 

“Perjanjian membuka kredit itu pada bulan Februari 2018 dengan pinjam Rp 2,5 miliar dalam jangka waktu 12 bulan dengan prosedurnya seperti apa dia mengangsur dan akhirnya tetap cidera janji, sehingga mengakibatkan debitur mengalami kolektibilitas 5 bulan atau macet dan masuk dalam daftar hitam,” tutup Ronal.

Reporter: Fandiyanto Pou

Comments are closed.