Scroll Untuk Lanjut Membaca
banner
HIBURAN

Melihat Upacara Tawur Agung Kesanga di Boalemo

×

Melihat Upacara Tawur Agung Kesanga di Boalemo

Sebarkan artikel ini
Prosesi Tawur Agung Kesanga yang digelar secara terbatas karena pandemi COVID-19 tersebut merupakan rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1943/FOTO: Kris Kamisma

Dulohupa.id- Sejumlah umat Hindu Desa Bongo IV, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo menggelar Upacara Tawur Agung Kesanga, siang tadi, Sabtu (13/3).

Pantauan dulohupa.id,  prosesi Tawur Agung Kesanga yang digelar secara terbatas karena pandemi COVID-19 tersebut, merupakan rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1943 pada besok, Minggu (14/3). Meski begitu, upacara yang digelar di perempatan Agung Desa Bongo IV itu, berjalan khidmat dan hanya melibatkan perwakilan masing-masing anggota keluarga saja.

Prosesi Tawur Agung Kesanga yang digelar secara terbatas karena pandemi COVID-19 tersebut merupakan rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1943/FOTO: Kris Kamisma

Jero Mangku I Nyoman Riyem, salah satu Pinadita yang memimpin upacara tawur agung menyatakan, pembatasan itu sebagai langkah pencegahan penyebaran virus corona. Pembatasan itupun untuk mencegah terjadinya kerumunan umat.

Prosesi Tawur Agung Kesanga yang digelar secara terbatas karena pandemi COVID-19 tersebut merupakan rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1943/FOTO: Kris Kamisma

“Meskipun dilakukan pembatasan jumlah dalam pelaksanaannya, bukan berarti merubah jalannya upacara tawur Agung. Semua tetap berjalan sebagaimana mestinya seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya saja ada perbedaan jumlah dalam pelaksanaannya”, Ujar Jero Mangku I Nyoman Riyem.

Prosesi Tawur Agung Kesanga yang digelar secara terbatas karena pandemi COVID-19 tersebut merupakan rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1943/FOTO: Kris Kamisma

Lebih lanjut kata Jero, selain adanya pembatasan jumlah umat yang mengikuti, perayaan upacara tawur agung kali ini juga tidak melaksanakan arak-arakan Ogoh-ogoh mengelilingi kampung umat Hindu di desa tersebut. Ogoh-ogoh sendiri adalah patung yang menyimbolkan Bhuta Kala.

Prosesi Tawur Agung Kesanga yang digelar secara terbatas karena pandemi COVID-19 tersebut merupakan rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1943/FOTO: Kris Kamisma

“(Arak-arakan) ini tidak dilaksanakan karena mencegah terjadi kerumunan yang besar. Karena dalam pelaksanaan arak-arakan Ogoh-ogoh tersebut, akan mengundang antusias masyarakat untuk berkumpul dan berkerumanan sehingga agar tetap mematuhi protokol kesehatan dan arahan pemerintah, masyarakat Hindu setempat bersepakat untuk tidak melaksanakan arak-arakan tersebut,” terang Jero Mangku I Nyoman Riyem.

Prosesi Tawur Agung Kesanga yang digelar secara terbatas karena pandemi COVID-19 tersebut merupakan rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1943/FOTO: Kris Kamisma

Jero pun mengaku, pencegahan kerumunan memang sudah menjadi kesadaran masyarakat.

“Dalam upacara tawur Agung ini kita semua berharap agar terhindar dari segala musibah dan berharap pandemi saat ini kian menghilang sehingga segala aktivitas keagamaan maupun aktivitas lain dapat berjalan sebagaimana mestinya”, tutup bapak I Nyoman Riyem.

Reporter: Kris Kamisma