Dulohupa.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik niversitas Negeri Gorontalo (UNG) menggelar pelatihan pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan daur ulang sampah di Desa Sipayo, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato
Koordinator Desa (Kordes) KKN tematik UNG, Rezal Pahlevi menjelaskan, daur ulang sampah dari kertas dan daun kering dijadikan bahan bakar pengganti tempurung kelapa.
Ia berharap pelatihan ini dapat membantu masyarakat di Desa Sipayo untuk meningkatkan ekonomi mereka.
“Saya berharap program ini tidak hanya sampai disini, semoga ini akan berlanjut, karena kita juga melihat cara pembuatan dan bahan baku yang muda didapatkan. Sehingga ini smoga berkelanjutan guna untuk meningkatkan ekonomi masyarakat itu sendiri,” ujar Rezal Pahlevi, Selasa (22/8/2023).
Rezal juga menjelaskan kegiatan ini merupakan program inti dari mahasiswa KKN UNG itu sendiri. Kata dia ini merupakan bentuk implementasi apa yang telah mereka pelajari selama mengemban pendidikan di kampus Universitas Negeri Gorontalo.
“Kegiatan ini menjadi program utama dari KKN UNG yang ada di Desa Sipayo. Jadi kegiatan ini tidak lain adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat, untuk bagaimana mengimplementasikan teori-teori yang kita dapatkan kemarin dalam perkuliahan,” jelasnya.

Disamping itu kepala Desa Sipayo, Djafar Monoarfa mengaku kegiatan pelatihan pemanfaatan sampah kertas dan daun ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Ini juga kata dia adalah bentuk untuk bagaimana sampah yang biasanya hanya menjadi momok berbahaya bagi lingkungan, saat ini bisa diolah menjadi nilai yang bermanfaat dan utamanya dapat menjadi nilai positif untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.
“Ini adalah kesempatan dan peluang untuk masyarakat yang ada di Desa Sipayo untuk memperoleh ilmu. Karena masyarakat itu harus punya skill atau keterampilan untuk peningkatan ekonomi,” ungkap Djafar Monoarfa.
Dirinya juga menjelaskan, kegiatan semacam ini tolong diperhatikan oleh masyarakat. Sebab menurut dia kegiatan pelatihan seperti ini sangat baik, bagaimana agar masyarakat itu memiliki keterampilan.
“Setiap ada pelatihan semacam ini saya selalu merespon. Karena saya ingin masyarakat itu memiliki kemampuan dan kreativitas. Jangan cari dimana kita kalah bersaing dengan para pendatang yang datang ke tempat kita. Karena para pendatang itu memiliki kemampuan untuk berusaha meningkatkan ekonomi, sedangkan masyarakat lokal hanya menjadi penonton,” kata Djafar.
“Saya berharap pelatihan ini dapat diperhatikan oleh masyarakat. Agar bagaimana apa yang didapatkan pada kegiatan ini mampu dilanjutkan sebagai usaha untuk meningkatkan ekonomi masyarakat itu sendiri,” tambahnya.
Reporter: Hendrik Gani











