Scroll Untuk Lanjut Membaca
HIBURAN

Kisah Rudy, Petani Bone Bolango yang Sukses Mengembangkan Hidroponik

×

Kisah Rudy, Petani Bone Bolango yang Sukses Mengembangkan Hidroponik

Sebarkan artikel ini
Beberapa pelanggan saat membeli melon di kebun hidroponik milik Rudi Adam/Faisal Husuna

Dulohupa.id- “Tidak ada penghasilan yang instan bro, semuanya butuh perjuangan, proses, dan kerja keras,” ungkap Rudy, seorang petani hidroponik yang saya temui baru-baru ini di kediamannya. 

Ungkapan itu sekaligus membuat saya tersentuh dan membekas. Rudy sendiri adalah seorang petani yang terbilang sukses mengembangkan hidroponik, bahkan ketika usaha itu harus ia mulai dari nol. 

Saya bertemu Rudy di kebunnya yang berada di Desa Boludawa, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango. Sebetulnya saya mengira jika pertemuan itu akan gagal, sebab kegiatan Rudy yang cukup padat. 

Seperti layaknya petani, Rudy saat menyambut saya dengan hanya menggunakan celana pendek serta kaos oblong yang diletakan di bahu. Kendatai, saat itu cuaca sedang keadaan panas. 

“Kak, saya akan mulai merekam ya,” kata saya meminta izin mewawancarainya

Sembari mencicipi melon hidangannya, saya pun memulai pembicaraan. Saya menanyakan perihal perjuangan dia menggeluti usaha tersebut. Terlebih bagaimana ia melewati dua tahun pandemi. 

Dia pun mulai bercerita, bahwa jauh sebelum ia berhasil mengembangkan hidroponik, pada tahun 2016 sampai 2018 silam, ia masih melakukan aktivitas pertanian dengan cara konvensional, yaitu menanam tanamannya seperti petani pada umumnya. Kata dia, waktu itu bahkan belum ada melon yang kebetulan saat itu sedang saya santap.

Dulu, hanya ada sayuran seperti cabai rawit, tomat, cabai keriting, ketimun, juga jagung manis, bawang merah, sayuran daun seperti kangkung, dan bayam.

Kesuksesan yang telah dia peroleh dari hidroponik sekarang, itu melalui proses yang sangat panjang, banyak hambatan dan rintangan yang ia temui. Bahkan waktu masih dengan tanaman konvensional dulu, ia mengalami kebangkrutan yang membuatnya sangat frustasi.

“Saya mengalami kerugian besar, di tahun 2018 itu, tiga karyawan saya pun pergi meninggalkan saya. Akhirnya karena kerugian besar itu, saya frustasi,” ucapnya.

Pada waktu itu juga, bersamaan dengan kejadian bencana gempa di Palu, Sulawesi Tengah. Karena frustasi, dia meninggalkan kebunnya dan memilih untuk jadi relawan pada bencana itu.

“Waktu frustasi itu, saya jadi relawan, tinggalkan kebun, saya menghimpun relawan, menghimpun dana, dan alhamdulillah dipercayakan oleh beberapa organisasi-organisasi besar, yang dulu pernah bermitra seperti Walhi dan Greenpeace,” ucapnya.

Ia menceritakan, sembari menjadi relawan, ia kerap berdiskusi, berbagi pengetahuan dengan temannya yang juga adalah pembudidaya tanaman konvensional, lalu juga membudidayakan secara hidroponik.

Setelah dari sana kurang lebih beberapa bulan, dia pulang ke Gorontalo dan mulai melirik hidroponik karena sudah mendapatkan ilmu sedikit dari temannya tadi. Namun waktu itu kata dia, sudah tidak ada modal, karena kebangkrutan yang ia alami.

Hanya dengan bermodalkan sisa-sisa bahan-bahan bekas yang dipakai waktu di bedengan dulu, seperti pipa yang sudah lama tertanam, dibersihkan untuk dijadikan modul-modul atau tempat untuk hidroponik.

Bahkan waktu memulai hidroponik itu, dia masih menggunakan baterai aki motor sebagai pembangkit listrik, untuk aliran pompa airnya.

“Ya perjuangannya dimulai dari situ. Tidak ada yang instan bro, serius. Kamu mendengarkan cerita saya dari awal tadi, ketika kita mengalami kebangkrutan tapi kita punya niat berjuang tinggi, maka kelak kamu akan merasakan indahnya keberhasilan itu bagaimana rasanya bro,” kata dia.

Bahkan waktu itu, dia mengaku bolsak kursi sofanya, dipenggal-penggal untuk dijadikan media tanam hidroponik. Sebab waktu itu, ia sama sekali belum mampu membeli rockwool, sebuah media tanaman khusus hidroponik yang terbuat dari serat-serat batuan.

“Setelah uji coba ternyata selada pahit, yang saat itu saya tanam selada kangkung dengan sawi, tapi hasilnya tidak langsung bagus, tidak langsung maksimal, jadi pahit,” uangkapnya.

Karena itu, akhirnya dia melakukan uji coba untuk kedua kalinya. Namun sembari melakukan uji coba itu, dirinya juga menanam sisa-sisa benih tomat dengan sisa-sisa pupuk, pada bedengan tempat ia menanam dulu. Katanya, buat nambah-nambah penghasilan.

“Nah uang dari hasil tomat tadi yang di bedengan, beli lagi sedikit-sedikit alat, beli nutrisi, dulu saya masih nanam di gabus, busa kursi,” singkatnya.

Lalu pada percobaan kedua, hasilnya sudah mulai bagus, tapi ukurannya masih belum dapat. Katanya, tanaman hidroponik itu sedapat mungkin harus sempurna, rasanya bagus, cropping daunnya juga harus bagus, mengembang mekar bagus, pun warna sayurnya, baru bisa menyasar pasar-pasar yang strategis.

“Saya riset kecil-kecilan di situ, nah alhamdulillah seiring berjalannya waktu, sampai tiga kali riset, baru jadi dapat topnya. Seladanya sudah bagus, sawi sudah bagus, kangkung juga sudah bagus,” katanya.

“Nah akhirnya dapat hasil panen tomat yang tadi saya tanam, yang sedikit kurang lebih 500 pohon. Tomat itu dijual, alhamdulillah dapat uang lagi sedikit, ditambah buat beli pipa. Lalu saya sudah pasang listrik,” ucapnya tersenyum.

Waktu terus berjalan, pada pertengahan tahun 2019 kemarin, penghasilannya melimpah, berkat kegigihan dan kerja kerasnya.

Orang-orang  di bidang UMKM waktu itu, mulai jualan salad, salad buah, salad sayur, jualan berger, sanwic, kebab, menggunakan selada dari kebun hidroponik miliknya, dan itu sangat aktif, juga banyak.

Nah, akhirnya dalam waktu yang singkat, dengan rezeki yang diperoleh waktu itu, dirinya membikin greenhouse besar, untuk kapasitas 2500 lubang tanam, setelah sebelumnya hanya berawal dari 100 lubang dan 500 lubang tanam.

Pandemi Covid-19 yang kemudian melanda Indonesia pada 2020, membuat pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Namun, justru di momen itu omsetnya bertambah luas biasa. 

Bahkan sampai motornya rusak, karena tidak ganti oli, sebab harus terus delivery melewati jalan-jalan tikus di Kota Gorontalo, membawa 10 sampai 20 kilo pesanan.

“Dalam satu hari bisa tiga kali saya pulang balik, pagi,siang sore. Bahkan pernah sampai malam. Alhamdulillah rezekinya saya dapat berkahnya saya dapat, waktu itu saya mendapatkan penghasilan kurang lebih 40 juta per bulan,” ungkapnya.

Dan pada tahun 2020 sampai 2021 dirinya sudah bekerja sama dengan beberapa ritel besar di Gorontalo, seperti Hypermart, Gelael, Qmart, Omart, hotel-hotel juga seperti Maqna, kemudian ada UMKM penjual burger, senwic, salad sayur dan salad buah.

“Dan sampai sekarang total lubang tanam kurang lebih ada 7000 lebih. Cuman tidak aktif semua. Karena bulan Desember kemarin saya banyak kirim ke Manado, karena permintaan mereka tinggi di akhir tahun itu,” tandasnya.

Karena omsetnya yang besar itu, kawannya bahkan menduga jika dirinya berinvestasi forex yang belakangan diketahui ternyata adalah bodong. “Saya juga pernah, ditanya apakah pernah terlibat dalam investasi forex. Saya katakan tidak. Bahkan banyak teman-teman saya yang menawari agar bergabung dalam investasi forex tersebut, tapi saya tolak, dan memang saat itu saya punya uang, tapi alhamdulillah saya simpan buat pembangunan ” katanya.

“Saya tidak bisa bayangkan bagaimana kalau saya waktu itu juga berinvestasi di forex, mungkin saat ini saya sudah menangis darah,” pungkasnya tertawa.

Rudy pun mengimbau kepada masyarakat untuk bisa menciptakan usaha sendiri. Terlebih di masa yang banyak pekerja dipecat atau di PHK, ada sarjana-sarjana baru yang susah nyari kerja bahkan ada usaha-usaha yang akhirnya bangkrut, gulung tikar tidak lagi beroperasi.

Usaha di bidang pertanian memang menurut Rudy masih potensial untuk dilakukan saat ini. Sebab menurutnya, satu-satunya usaha yang mampu bertahan bahkan ketika pandemi adalah usaha di bidang pertanian. 

“Jadi sekali lagi, tidak ada yang instan, kalau kita mau sukses dua tiga tahun yang akan datang, mesti memulainya dari sekarang. Tidak ada yang instan, dan kita harus berproses. Proses itulah yang akan mengajarkan kita menjadi kuat,” tutup Rudy. 

Reporter: Faisal Husuna