Dulohupa.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menimbulkan emisi gas rumah kaca yang signifikan, terutama karbon dioksida yang bisa memperburuk perubahan iklim global, hingga bisa berdampak buruk pada kesehatan manusia dan kualitas udara, seperti kabut asap.
Yanti selaku petugas Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sulawesi menjelaskan kebakaran hutan adalah sumber karbon yang sangat besar, sehingga upaya mencegah dan mengendalikannya merupakan salah satu strategi terpenting untuk mencapai penurunan emisi nasional.
“Pencegahan dini sekaligus pengendalian menjadi strategi utama untuk mengendalikan Karhutla,” ujar yanti dalam materinya pada kegiatan sosialisasi Kebijakan Tata Kelola Hutan dan Pengurangan Emisi yang digelar di Yulia Hotel pada tanggal 15-16 Desember 2025.
Dirinya memaparkan, di Provinsi Gorontalo sendiri luas karhutla sampai bulan November 2025 seluas 86.000 Ha. Data terbanyak titik kebakaran hutan dan lahan berada di Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Gorontalo Utara.
Yanti meminta adanya koordinasi antara pihak-pihak terkait dalam upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla. Ia juga mengajak seluruh pihak memanfaatkan program Reducing Emissions From Deforestation and Forest Degradation sebagai dukungan dalam pengurangan emisi di Indonesia, khususnya Gorontalo.
Kata Yanti, ada beberapa strategi pengendalian kebakaran hutan dan lahan yakni seperti menghindari pembukaan lahan dengan bakar, melakukan patroli dini, membuat sekat bakar, mengelola gambut agar tetap basah, serta meningkatkan kesadaran masyarakat dan kerjasama multi-pihak untuk penanggulangan dan penegakan hukum tegas bagi pelaku pembakaran.
Untuk diketahui sosialsasi ini dilaksanakan oleh kelompok kerja (Pokja) Results-Based Payment (RBP) REDD+ Green Climate Fund Output 2 Provinsi Gorontalo melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) serta Wahana Mitra Mandiri.
Reporter: Enda











