Dulohupa.id – Sebanyak 1257 kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Provinsi Gorontalo tercatat sejak 2001 hingga tahun 2024. Dengan rincian 706 diagnosa HIV dan 551 diagnosa AIDS.
Sementara penyebaran penyakit ini berdasarkan jenis kelamin, diantaranya 575 HIV dan 440 AIDS untuk gender laki-laki, serta 131 HIV dan 111 AIDS untuk gender perempuan.
Saat ditemui pada Kamis (15/05/2025), Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Gorontalo, Sabri Panigoro membenarkan adanya trand peningkatan penyebaran HIV dan AIDS di Gorontalo.
“1257 kasus, itu akumulasi dari tahun 2001 sampai 2024,” ujar Sabri kepada awak media.
Meski begitu, kata Sabri telah ada penggurangan sebanyak 30 persen dari kasus HIV dan AIDS atau telah meninggal dunia.
Lebih lanjut jelas Sabri, saat ini pihaknya tengah mengola kembali data penyebaran penyakit tersebut ditahun 2025.
Sebelumnya kepala Dinas Kesehata Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa mengatakan adanya peningkatan signifikan dalam jumlah kasus HIV-AIDS secara akumulatif dalam 5 tahun terakhir. Pada tahun 2024, tercatat sebanyak 242 kasus baru, yang terdiri dari 194 kasus HIV dan 48 kasus AIDS.
Meskipun begitu, Anang menyatakan Provinsi Gorontalo berhasil mencatatkan sebagai satu-satunya daerah di Indonesia dengan capaian viral load tersupresi sebesar 99% pada tahun 2024.
“Angka ini melampaui target nasional yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan, yaitu sebesar 95%,” ujarnya.
Viral load tersupresi merupakan indikator penting yang menunjukkan keberhasilan pengobatan HIV, di mana jumlah virus dalam tubuh pasien berhasil ditekan hingga tingkat yang sangat rendah, sehingga risiko penularan berkurang secara signifikan dan kualitas hidup pasien meningkat.
“Indikator pertama adalah pengobatan pada penderita, yang kedua adalah keberhasilan pengobatan yang diukur dari viral load tersupresi. Nah ini kita sudah sukses satu-satunya yang warna hijau di Indonesia. Nah ini betul-betul tantangan buat kita untuk mempertahankan ke depan,” ujar Anang.
Penemuan kasus secara dini dan pemberian pengobatan yang tepat adalah kunci. Dengan demikian, tidak hanya memperpanjang usia ODHIV tetapi juga memutus rantai penularan di masyarakat
Disisi lain, Anang mengakui bahwa memulai pengobatan dan terapi bagi pasien HIV-AIDS bukanlah tugas yang mudah, mengingat berbagai tantangan yang dihadapi.
Reporter: Yayan












