Scroll Untuk Lanjut Membaca
NASIONALPERISTIWA

Dinilai Melecehkan Profesi Jurnalis, IJTI Kecam Oknum Pengawal Menteri KKP

×

Dinilai Melecehkan Profesi Jurnalis, IJTI Kecam Oknum Pengawal Menteri KKP

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

Dulohupa.id-Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Koordinator Daerah Tapal Kuda mengecam perlakuan oknum pengawal Menteri KKP RI, terhadap jurnalis JTV Situbondo, Andy Nurcholis. Tindakan yang dilakukan oleh oknum pengawal kementerian KKP RI tersebut dianggap mencederai profesi jurnalistik dengan melecehkan profesi jurnalis TV. Sebab, telah bertindak kasar dan bahkan dua kali sempat mendorong sambil bernada emosi kepada Andy Nurholis.

Ketua IJTI Koordinator Daerah Tapal Kuda, Tomy Iskandar mengungkapkan, bahwa iindakan tersebut merupakan tindakan kesewenang-wenangan dan merupakan tindak tak terpuji kepada jurnalis yang dilakukan di depan khalayak umum.

IJTI Tapal Kuda menilai, tindakan itu merupakan tindakan yang cenderung mengancam kebebasan pers sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999.

Atas tindakan tersebut IJTI meminta Menteri KKP RI, Sakti Wahyu Trenggono turun tangan memberikan teguran dan sanksi kepada jajaran pengawalnya yang diduga telah berkelakuan tidak terpuji tersebut.

Selain itu, atas tindakan tak terpuji tersebut, IJTI tegas merekomendasikan Andi Nurholis untuk melakukan laporan resmi kepada pihak berwajib.

Sebelumnya, Andi Nurholis, seorang jurnalis JTV Situbondo,anggota Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Koordinator Daerah Tapal Kuda, mendapat kekerasan dari salah satu oknum pengawal Menteri KKP RI, pada Selasa (16/3).

Kepada dulohupa.id, Andi menceritakan, bahwa kejadian itu ia alami saat meliput Menteri Kelautan dan Perikanan RI (KKP), Sakti Wahyu Trenggono yang melakukan kunjungan kerja di dusun Gundil, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo Jawa Timur. Agendanya ceremonial panen raya udang vaname di lokasi tersebut.

Sekitar pukul 13.30 WIB Menteri KKP RI tiba di lokasi dan langsung disambut Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo, Ujang Komarudin Asdani serta jajaran Forkopimda Kabupaten Situbondo. Di antaranya Bupati Situbondo, Karna Suswandi, Kapolres Situbondo, AKBP Ach Imam Rifai, Kajari Situbondo dan Dandim 0823, Letkol Inf. Neggy Kuntagina. Acara berlangsung khidmat, dengan serangkaian sambutan dan pemaparan dari Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo.

Saat itu Andy menceritakan, bahwa ia bersama teman-teman media lainnya, sedang melakukan peliputan mengambil gambar saat prosesi pemaparan tersebut. Karena posisi jurnalis dan para juru foto sedikit menutupi banner acara pemaparan, maka ada salah satu petugas dari humas KKP bernama Novi, meminta para awak media dan juru foto untuk lebih bergeser ke belakang, dan ia diminta bersama para jurnalis lainnya menuruti perintah tersebut, agar tidak mengganggu khidmat acara.

Karena posisi masih kurang ke belakang, maka petugas bernama Novi kembali memintanya untuk terus mundur. Akan tetapi, tepat di belakang posisi Andy, ada salah seorang yang ia tak kenal, berpakaian kemeja putih dan celana kain berwarna hitam berdiri di belakang. Lalu ia pun meminta Novi supaya orang tersebut juga lebih mundur ke belakang, sehingga posisinya otomatis bisa bergeser lebih mundur juga ke belakang.

Namun, tak lama kemudian, ada satu petugas yang diketahui sebagai pengawal kementerian, memegang payung mengenakan tas punggung dengan tanpa basa-basi langsung mendorong Andy, dan membentaknya dengan nada emosi. Tak ingin suasana gaduh, ia pun diajak oleh pria yang membawa payung itu untuk ke belakang, bicara baik-baik. Lalu, kemudian datang dua petugas pengawal Menteri lainnya, dan langsung mendorongnya.

Suasana pun sontak gaduh. Beruntung, datang dua petugas berseragam TNI meredam tiga petugas pengawal menteri tersebut. Dan ia juga dihampiri para awak media lainnya dan salah satu petugas BPBAP, bernama Manijo, untuk meredam suasana.

“Tindakan kekerasan dan pelecehan profesi jurnalis saat melakukan tugas liputan ini direkam oleh jurnalis Trans TV, Zainal Ali Mustofa, dan disaksikan oleh sejumlah rekan media lainnya salah satunya oleh reporter RRI Jember, Diana Arista,” ungkap Andi menceritakan kronologinya.

Reporter: Mega