Scroll Untuk Lanjut Membaca
AdvertorialINFO COVID-19PERISTIWA

Cerita Surdin, Mahasiswa Perantau yang Tak Mudik Demi Menjaga Keluarga Dari Covid-19

×

Cerita Surdin, Mahasiswa Perantau yang Tak Mudik Demi Menjaga Keluarga Dari Covid-19

Sebarkan artikel ini
Seorang pria nampak sibuk memperbaiki sepeda motornya, saat kapal Fery dari Gorontalo tujuan Pagimana, Luwuk, Sulteng, yang akan segera berlabuh di pelabuhan, Pagimana. Foto: Zulkifli Mangkau.

Dulohupa.id-Surdin menghela napasnya begitu panjang, saat tahu pemerintah pusat akan memberlakukan pelarangan mudik di setiap daerah. Informasi yang ia baca di kanal berita online sontak membuat ia kaget. Pasalnya, sudah dua tahun dirinya tidak bersua dengan sahabat, kerabat, dan keluarga di kampung asalnya, Toili, Sulawesi Tengah.

Surdin bercerita, sejak menempuh pendidikan di Kabupaten Pohuwato, hingga melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, ia belum kembali. Dirinya berencana, pada libur lebaran tahun 2021 ini, ia ingin mudik, bertemu sanak-keluarga di kampung asalnya. Namun, rupanya harapan itu akan pupus karena kebijakan pemerintah tersebut.  

“Rencananya saya mau mudik tahun ini, karena sudah dua tahun belum balik. Tapi apalah daya, pemerintah masih melarang,” ujar Surdin kepada Dulohupa.id saat diwawancarai, Sabtu (15/5).

Keinginan Surdin untuk kembali lantas belum ia sampaikan kepada keluarganya. Ia masih mencari alasan yang kuat untuk memberitahu mereka, bahwa tahun ini keinginan dia bertemu untuk melepas kerinduannya akan rumah dan kampung halaman, belum bisa terealisasi.

“Jelas saya rindu, apalagi keluarga. Jadi saya belum kasih tahu orang di rumah belum bisa mudik tahun ini,” tuturnya, sambil merendahkan pandangannya.

Padahal kata Surdin, kasus positif di Pohuwato beberapa minggu terakhir mengalami perlambatan atau tidak terjadi sama sekali kasus baru. Dan tak perlu dikhawatirkan bisa menularkan kepada keluarganya saat mudik.

Tapi lagi-lagi, keadaan itu tidak akan mengubah aturan pelarangan dari pemerintah, mudik tetap dilarang, dan Surdin harus menanggung rindu akan kampung halamannya di tanah perantauan.

“Kalau saja ada cela, saya ingin memaksa mudik. Tapi apa daya, setiap perbatasan dijaga ketat oleh petugas yang telah disiagakan.”

Surdin juga mengungkapkan, ia salah satu dari sekian mahasiswa di Pohuwato yang tidak mudik, juga beberapa kawannya yang sudah bekerja di Pohuwato yang memilih tidak mudik dan bertahan. 

“Tapi ada beberapa yang sempat balik lebih dulu sebelum aturan mudik diberlakukan, hanya beberapa saja, tidak banyak. Yang lainnya memilih bertahan sama-sama di sini biar bisa saling mengobati rasa rindu akan kampung halaman,” ujarnya.

Keluarga kecil ini mudik lebih awal menggunakan kapal Fery dari Gorontalo untuk tujuan Pagimana, Luwuk Banggai, Sulteng, sebelum pelarangan mudik pada tanggal 6 Mei – 17 Mei diberlakukan di seluruh Indonesia. Foto: Zulkifli Mangkau

Penyekatan Arus Mudik

Pemerintah pusat bekerjasama dengan pemerintah daerah pada 6 hingga 17 Mei 2021, mulai memberlakukan penyekatan antara perbatasan untuk menutup pintu masuk. Hal ini dilakukan pemerintah untuk menekan angka penyebaran virus covid-19 yang dibawa oleh pelaku perjalanan yang ingin kembali ke kampung halamannya.

Di Gorontalo sendiri, setidaknya ada empat pintu perbatasan yang ditutup, Perbatasan itu menghubungkan Gorontalo dengan wilayah Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. 

“Perbatasan Gorontalo-Sulteng yang ada di Pohuwato ditutup sementara, yang diizinkan melintas hanya truk pengangkut bahan logistik, makanan, dan obat-obatan. Tapi tetap dijalankan pemeriksaan yang ketat di perbatasan,” ujar Sekretaris Satgas Covid-19, Ramon Abdjul, saat dihubungi via telepon.

Kata Ramon, pemerintah melakukan hal tersebut untuk menekan masifnya penyebaran Covid-19. Bahkan di beberapa perbatasan Gorontalo lainnya, pemerintah daerahnya memperpanjang penutupan akses masuk hingga akhir Mei untuk melakukan pencegahan yang dikatakan Ramon tadi.

“Saya mengerti pelarangan mudik ini, saya sudah terima. Dan saya pikir, kalau saya mudik nanti, saya tidak tahu apakah saya bersih dari virus atau tidak, dan yang akan menjadi korban nanti keluarga saya,” kata Surdin lagi.

Namun, Surdin tak hilang akal. Dia memanfaatkan teknologi yang mulai ramai digunakan sekarang ini untuk saling memberi informasi, baik melalui saluran telepon atau panggilan video yang bisa digunakan dengan kuota banyak orang.

“Saya memanfaatkan teknologi yang ada, jadi tidak ada alasan tidak bertemu keluarga di hari raya, saya juga memberikan informasi bahwa mudik dilarang tahun ini untuk kepentingan kita bersama, kepentingan saya, juga keluarga saya di rumah untuk saling menjaga,” ucapnya penuh lirih.

Surdin hanya berharap, pandemi ini secepatnya berlalu, dan pergi dari Indonesia. agar dirinya, pada libur lebaran tahun-tahun mendatang nanti bisa mudik tanpa ada larangan seperti sekarang ini.

“Iya, saya berharap begitu, sudah dua tahun ini belum pulang. Kalau lama tak pulang saya nanti dikira bang Toyib yang durhaka pada keluarga yang tak pulang-pulang saat lebaran,” katanya dengan penuh tawa, sembari menyeka beberapa air yang keluar dari raut wajahnya yang penuh kerinduan. 

*liputan ini untuk program Fellowship Jurnalis Perubahan Perilaku kolaborasi Dewan Pers dan Satgas Covid-19
Reporter: Zulkifli Mangkau