Cerita Haru Dibalik Mahasiswa UNG KKN di Desa Bonuyo

oleh -199 Dilihat
Mahasiswa KKN
Kepala Desa Bunuyo, Dosen Pembimbing Lapangan, peserta mahasiswa KKN UNG, dan karang taruna gerbang emas. Foto: Hendrik Gani

Dulohupa.idKuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan para mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) memberikan arti dan kesan bagi masyarakat di Desa Bunuyo, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato.

Bermula mahasiswa yang biasa hidup hedonis ditengah ramainya kota, tapi tiba di desa mereka harus berinteraksi dengan orang asing yang tak pernah dikenal sebelumnya.

KKN Itu Apa Sih? 45 hari hidup ditempat asing, tinggal ditempat baru, jauh dari tempat nongkrong. Persiapannya juga banyak, bangun pagi, rapat tiap malam, nyusun proker, dan ngga tau bakal kesampean apa ngga?

Kita juga musti tinggal dengan orang-orang yang baru dikenal. Kira-kira ada yang cakep ngga ya? Saking penasarannya sampai nyari namanya di Instagram. Ngenes, ternyata semua diluar ekspektasi jadi ya udah jalani aja semuanya.

Kenyataannya KKN bikin kita lihat sisi lain dari kehidupan, dunia kita yang tadinya sekedar nongkrong, nge-game, streaming. Ternyata bisa lebih asik dan seru. Bisa bikin kita lebih sederhana, bisa hepi-hepian bareng, ngga ada sinyal yang kita takutin, malah bikin kita lebih akrab dengan sekitar. Sharing pengelaman, lebih peka sama yang lain. Delapan mahasiswa turun tangan bareng mengabdi untuk masyarakat.

“Awalnya memang tidak mau sama sekali, pingin pindah desa aja, karena orang-orang baru dan tidak saling mengenal satu dengan yang lainnya. Bahkan seminggu sedih-sedihan tidak pingin KKN lagi, tapi berubah menjadi candu.,”ujar Regina Octavia Ibrahim, dalam acara perpisahan, Sabtu (19/11/2022).

Hal yang sama pula dirasakan tujuh mahasiswa lainnya. Prayoko AR. Manteu, Septiani, Andriyawan E. Karim, Adelia Ahmad, Andri, Yulrista Riswanto M, Fakhri Nur Afif Mooduto, yang juga sama-sama merasakan hal canggung ketika bertemu orang baru yang sekampus dengannya.

“Hari pertama itu canggung, karena kita tidak sejurusan, tapi lama-lama sudah saling mengenal dan sudah nyaman bersama,”jelas mereka sembari bergantian menceritakan hal yang sama.

Setelah mereka yang delapan orang sudah saling mengenal, dan sudah dekat. Hal baru lagi ketika harus berbaur dengan masyarakat, karang taruna, rema muda, dan toko masyarakat setempat.

“Pas sampai di Desa Bunuyo kita langsung muter-muter keliling desa sembari melihat, dan soan kepada tokoh-tokoh masyarakat yang sedang duduk santai di depan rumah mereka,”sebut Prayoko

Yoko sapaan akrab dari Prayoko AR. Manteu juga menjelaskan, seminggu kemudian, mereka langsung membuat rapat pembentukan panitia, yang sudah direncanakan sebelumnya oleh mereka peserta KKN dan beberapa karang taruna gerbang emas Bunuyo.

“Dirapat itu banyak karang taruna yang hadir, dan kita langsung memperkenalkan diri, dan juga langsung membuat proker untuk kegiatan yang akn kita buat nantinya, Alhamdulillah teman-teman karang taruna Desa Bunuyo, siap menyukseskan kegiatan yang telah kita rencanakan bersama, kami KKN dan karang taruna itu sendiri,”tambah Yoko

Siring berjalannya waktu, dua tiga minggu berlalu kegiatan satu persatu sudah dimulai. Seperti, mini soccer, dan pentas seni. Keakraban pun tak terhindarkan, nyaman diantara mahasiswa KKN dan karang taruna Desa Bunuyo, dan begitu sebaliknya melebur menjadi satu.

“Kita semua menjadi akrab, rasa nyaman akibat sering bersama dalam mempersiapkan kegiatan untuk masyarakat Bunuyo, melebur menjadi satu,”jelas Regina memecah dikeheningan malam perpisahan.

Dan tibalah dimana seluruh kegiatan berakhir, kata tanggal penarikan pun sudah mulai terdengar, dan hari pun seakan lebih cepat berjalan di waktu penarikan tersebut. Malam perpisahan yang dibuat pemerintah desa setempat, karang taruna dan masyarakat sekitar telah dilaksanakan.

“Pada awal-awal suka pulang rumah, sekarang tidak suka pulang,” sambung Regina sembari menggambarkan rasa nyaman berada di sekitar karang taruna Desa Bunuyo.

Penarikan oleh DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) yang dulunya tak sabar untuk dinanti-nanti, akhirnya menjadi hal buruk ketika harus mengakhiri pertemuan hanya 45 hari dan terasa sangat singkat. Tangis haru ketika penarikan pun tak terhindarkan, dan rasanya mereka tak ingin berpisah, mahasiswa KKN dan karang taruna Desa Bunuyo.

“Jangan lupakan kami ya, kalian terbaik, kalian orang-orang baik yang pernah kami kenal, jika berkesempatan kita bisa rencanakan hal baik untuk kumpul bareng lagi,” ujar para mahasiswa saat penarikan dan kembali ke kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dengan air mata pun jatuh bercucuran.

Melihat keakraban dan banyaknya karang taruna yang menunggu para peserta KKN itu dijemput dosen pembimbing lapangan. Mahdalena, salah satu dosen pembimbing lapangan mengaku bangga karena setelah berapa lama berada disini, mahasiswa KKN sudah mampu berbaur dengan masyarakat setempat.

“Seperti apa yang kita lihat sekarang ini mahasiswa yang ditempatkan disini sudah mampu berbaur dengan masyarakat, biasa awal-awal itu mereka agak sungkan. Dan juga di Desa Bunuyo ini potensi yang dimiliki cukup baik, saya berterimakasih banyak kepada pemerintah desa, karang taruna, dan masyarakat setempat, yang telah mau menampung adik-adik mahasiswa ini,”ucap Mahdalena dosen Akuntansi di Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Reporter: Hendrik Gani