Scroll Untuk Lanjut Membaca
NASIONAL

Audiensi Pemda dan Mahasiswa Bangkep di Gorontalo, Dorong Penanganan 5 Isu Krusial

×

Audiensi Pemda dan Mahasiswa Bangkep di Gorontalo, Dorong Penanganan 5 Isu Krusial

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa Bangkep
Audiensi Mahasiswa Bangkep di Gorontalo bersama Pemerintah Daerah Bangkep, dorong 5 isu krusial. Foto/ist

Dulohupa.id – Audiensi antara Pemerintah Daerah Banggai Kepulauan (Bangkep) bersama mahasiswa asal Bangkep yang ada di Gorontalo (KPMI-Bangkep) dorong sejumlah isu yang dinilai krusial dan perlu cepat ditangani.

Dalam pertemuan itu, para mahasiswa langsung ditemui oleh Bupati Bangkep, Rusli Moidady, Wakil Bupati Bangkep, Serfi Kambey dan jajanan Pemda Bangkep pada Rabu (21/01/2026) di Kantor Bupati Bangkep (Sulteng).

Audiensi tersebut menjadi ruang dialog strategis antara mahasiswa dan pemerintah daerah, sekaligus wadah penyampaian aspirasi, gagasan, serta kritik konstruktif terhadap berbagai persoalan krusial yang masih dihadapi Banggai Kepulauan. Hal ini juga sebagai bentuk komitmen mahasiswa dalam mengawal arah pembangunan daerah yang berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan.

Di pertemuan tersebut, KPMI-Bangkep menegaskan posisinya sebagai mitra kritis pemerintah yang memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Salah satu isu utama yang disoroti dalam audiensi tersebut adalah pembangunan infrastruktur dasar. Ketua Dewan Pengarah Organisasi KPMI-Bangkep, Irfan Kahar menilai bahwa ketimpangan infrastruktur masih menjadi persoalan serius, khususnya di wilayah kepulauan dan pelosok.

“Kondisi jalan penghubung antar wilayah, akses telekomunikasi, hingga ketersediaan air bersih masih belum merata. Hal ini berdampak langsung pada mobilitas masyarakat, distribusi hasil produksi, serta akses terhadap layanan publik,” ujar Irfan.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur yang tidak merata berpotensi memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi antar wilayah, sehingga membutuhkan perhatian dan komitmen serius dari pemerintah daerah.

Selain infrastruktur, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi daerah juga menjadi perhatian para mahasiswa. Secara kelembagaan, KPMI-Bangkep menilai bahwa potensi lokal seperti sektor perikanan, kelautan, pertanian, dan UMKM belum dikelola secara optimal.

KPMI-Bangkep melalui Irfan Kahar mendorong Pemda agar merumuskan kebijakan ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan angka pertumbuhan, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat lapisan bawah.

Isu penciptaan lapangan kerja turut mengemuka dalam dialog tersebut. KPMI-Bangkep menekankan pentingnya program konkret yang mampu menekan angka pengangguran, melalui pelatihan keterampilan, dukungan permodalan, serta pendampingan usaha produktif yang berkelanjutan.

Tak kalah penting, mahasiswa juga mendorong Pemda Bangkep untuk lebih serius dan konsisten dalam penyelenggaraan beasiswa daerah, karena bantuan ini dinilai sebagai bentuk investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Hal senada diungkapkan Sekretaris Umum KPMI-Bangkep, Hayati yang menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam proses pembangunan daerah bukanlah sekadar formalitas, melainkan bagian dari panggilan sejarah dan tanggung jawab sosial mahasiswa sebagai agen perubahan.

“Mahasiswa tidak boleh berdiri di luar proses pembangunan. Kami hadir untuk menyampaikan aspirasi masyarakat, memberikan kritik yang membangun, serta memastikan bahwa kebijakan yang diambil benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat Banggai Kepulauan,” ucap Hayati.

Selain itu, dalam pertemuan tersebut juga disampaikan aspirasi terkait kebutuhan sekretariat permanen sebagai penunjang aktivitas organisasi. Hal ini dinilai bahwa keberadaan sekretariat dipandang strategis sebagai pusat konsolidasi, pengembangan intelektual, dan pembinaan kader mahasiswa Banggai Kepulauan yang sedang studi di Gorontalo.

“Sekretariat bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol pengakuan terhadap peran mahasiswa sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam pembangunan,” tandas Hayati.

Terakhir, mahasiswa berharap seluruh aspirasi, masukan dan catatan kritis yang disampaikan tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan dan program nyata.