Scroll Untuk Lanjut Membaca
GORONTALO

Libatkan Juru Bahasa Isyarat, Aevolora Fest Sukses Rayakan Musik untuk Seluruh Kalangan

×

Libatkan Juru Bahasa Isyarat, Aevolora Fest Sukses Rayakan Musik untuk Seluruh Kalangan

Sebarkan artikel ini
Aevolora Fest
Festival musik bertajuk Aevolora Fest karya siswa SMAN 3 Gorontalo libatkan Juru Bahasa Isyarat.

Gorontalo – Musik merupakan bahasa universal yang harus bisa dinikmati oleh seluruh kalangan. Komersialisasi musik saat ini menyebabkan suatu pergeseran nilai yang berdampak terhadap musik sendiri. Kemampuan musik dalam menyampaikan pesan, emosi, maupun suasana hati harus melampaui batasan yang ada.

Festival musik bertajuk Aevolora Fest karya siswa SMAN 3 Gorontalo memiliki keunikan tersendiri dari event-event sebelumnya. Pasalnya, festival musik yang menghadirkan dua Musisi asal Ibukota ini bisa dinikmati oleh para teman tuli atau penyandang disabilitas tunarungu.

Aevolora Fest berlangsung Rabu 4 Februari 2026 lalu menghadirkan bintang tamu utama, yakni Sal Priadi dan Perunggu. Festival ini bisa dinikmati oleh seluruh kalangan, termasuk penyandang tunarungu karena melibatkan juru bahasa isyarat.

Ketua pelaksana Aevolora Fest, Zalfa Ayudiah Yunus menyebut penyediaan akses untuk penyandang disabilitas di pagelaran musik di Gorontalo masih tergolong minim. Hal tersebut yang mendorong panitia penyelenggara untuk berkolaborasi dengan Juru Bahasa Isyarat (JBI) dan komunitas Rangkul Asa.

“Sejatinya musik merupakan karya yang bisa dinikmati oleh seluruh kalangan, melalui Aevolora Fest ini kita ingin menghadirkan event yang inklusif dan meriah,” ujar Zalfa.

Di lain sisi, Sekretaris Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu (Gerkatin) Provinsi Gorontalo, Abdul Karim Umar turut bangga dengan kolaborasi yang dilakukan antara pihak penyelenggara dengan komunitas disabilitas. Ia merasa senang hak kaum disabilitas untuk berada di ruang hiburan publik bisa terfasilitasi dengan kolaborasi yang terjadi.

“Awalnya, kami bahkan tidak percaya jika konser inklusi seperti ini benar-benar akan diadakan, Bagi kami, ini adalah sesuatu yang luar biasa,” ungkap Abdul.

Sebagai organisasi yang memperjuangkan hak dan kesetaraan bagi penyandang tunarungu, Abdul berharap bisa terlibat aktif dalam event hiburan kedepannya. Ia tidak ingin para kaum disabilitas merasa didiskriminasi hanya karena keterbatasan pendengaran.

“Kami sangat berharap lebih banyak kegiatan konser di masa depan yang melibatkan teman-teman Tuli secara aktif. Musik adalah bahasa universal, melibatkan kami berarti mengakui bahwa kami memiliki hak yang sama untuk menikmati hiburan, sama seperti yang lainnya.” jelas Abdul.

Selama konser berlangsung, para juru bahasa isyarat menginterpretasikan lirik, nada, hingga ekspresi penonton dengan simbol gerakan isyarat. Semua penampilan Bintang tamu dikemas agar bisa “didengar” oleh seluruh kalangan.

Yusrilsyah Limbanandi, founder komunitas Rangkul Asa sekaligus Juru Bahasa Isyarat saat Aevolora Fest berlangsung merespon positif atas Kerjasama yang dilakukan bersama pihak penyelenggara.

Ia berharap ruang kesetaraan menjadi standar baru untuk industri hiburan kedepannya. Selain itu, kesadaran dari para pemangku kepentingan maupun pelaku industri kreatif akan ruang inklusi di ruang publik makin ditingkatkan.

“Ruang inklusi harus menjadi bagian integral dari setiap konser besar ke depannya, agar kemeriahan panggung bisa dirasakan oleh semua kalangan tanpa hambatan komunikasi,” tutup Yusril.

Komunitas Rangkul Asa dan Gerkatin Gorontalo mengajak semua pihak untuk bekerja sama menciptakan ruang publik yang ramah disabilitas. Sebab ruang inklusi tidak hanya tentang kebebasan akses, tapi tentang menghargai hak dan kesetaraan setiap individu dalam merayakan kehidupan melalui musik.