Scroll Untuk Lanjut Membaca
PEMKAB BONE BOLANGO

Perayaan Tumbilotohe di Bone Bolango Ajak Generasi Muda Lestarikan Tradisi

×

Perayaan Tumbilotohe di Bone Bolango Ajak Generasi Muda Lestarikan Tradisi

Sebarkan artikel ini
Tradisi Tumbilotohe
Warga saat menyalakan lampu botol yang bergantungan di alikusu. Foto/Diskominfo

Bone Bolango – Semangat melestarikan tradisi kembali dihidupkan para pemuda di perayaan malam Tumbilotohe. Ratusan lampu botol dan lampion warna-warni dipasang secara tradisional oleh komunitas Pemuda Penggerak Bersatu, Senin (16/3/2026) malam.

Panitia Perayaan Malam Tumbilotohe Pemuda Penggerak Bersatu, Abdullanto Ibrahim, mengatakan konsep yang diangkat tahun ini sengaja mengusung nuansa tradisional seperti pada masa dahulu.

Menurutnya, saat ini banyak generasi muda yang tidak lagi mengetahui bagaimana perayaan Tumbilotohe dilakukan secara tradisional menggunakan lampu botol dengan sumbu dan minyak tanah.

“Sekarang ini jangankan lampu botol yang menggunakan sumbu dan minyak tanah, kita lihat sudah banyak yang tidak merayakan malam pasang lampu ini. Anak-anak sekarang pun banyak yang tidak tahu bahwa dahulu perayaan Tumbilotohe menggunakan lampu botol, alikusu, dan lampion,”ujar Abdullanto.

Dalam perayaan tersebut, panitia memasang ratusan alikusu yang digantung bersama lampu botol serta lampion yang diisi lampu botol berwarna. Empat warna yang digunakan yakni hijau, ungu, merah, dan kuning yang melambangkan simbol warna adat Gorontalo.

Ia menjelaskan, persiapan kegiatan tersebut telah dimulai jauh sebelum bulan Ramadan. Memasuki bulan puasa, para pemuda tetap melanjutkan persiapan secara gotong royong setiap malam usai menunaikan salat tarawih.

Pendanaan kegiatan pun berasal dari swadaya para pemuda dari Desa Tunggulo Selatan, Tunggulo dan Bongohulawa itu serta partisipasi masyarakat yang dengan ikhlas memberikan dukungan, baik secara moril maupun materil.

Komunitas pemuda ini berkomitmen menjaga serta memperkenalkan kembali tradisi Tumbilotohe kepada generasi muda. Melalui konsep tradisional tersebut, mereka berharap perayaan Tumbilotohe tidak sekadar menjadi hiasan malam menjelang akhir Ramadan, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya agar warisan leluhur tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Sementara Bupati Bone Bolango Ismet Mile menyampaikan bahwa tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun ini menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Gorontalo.

Menurutnya, malam Tumbilotohe yang dilaksanakan tiga malam menjelang akhir Ramadan bukan hanya sekadar tradisi menyalakan lampu di halaman rumah atau lingkungan sekitar. Lebih dari itu, tradisi tersebut mengandung nilai kebersamaan, kekhidmatan, dan rasa syukur atas perjalanan ibadah selama bulan suci.

“Ini adalah peristiwa adat yang sudah berpuluh-puluh tahun dijaga dan terus diamalkan oleh masyarakat Gorontalo. Tradisi ini menjadi penanda bahwa kita sedang menuju penghujung Ramadan,”ujar Bupati.