Dulohupa.id – Rangkong sering dijuluki sebagai “petani hutan”. Berdasarkan penelitian Burung Indonesia, jangkauan seekor rangkong dapat mencapai daerah seluas radius 100 km persegi. Dengan kata lain, burung gagah ini memiliki kesaktian menebarkan biji sejauh 100 km persegi. Kelebihan yang jarang dimiliki burung jenis lain. Mereka berandil besar dalam regenerasi hutan.
Meski punya andil besar dalam kehidupan manusia, hutan-hutan yang dipelihara rangkong masih saja dirusak oleh ulah manusia. Selain perburuan, penyebab lain menurunnya populasi Julang Sulawesi adalah degradasi hutan-hutan yang menjadi habitat mereka, baik disebabkan oleh maraknya pembalakan liar dan pertambangan.
Data Forest Watch Indonesia (FWI) memperlihatkan Gorontalo kehilangan area hutan secara signifikan dari tahun ke tahun: pada tahun 2000 luas kawasan hutan alam Provinsi Gorontalo seluas 823,390 hektar (ha). Sementara pada tahun 2009 menurun 735,578 ha, tahun 2013 menjadi 715,293 ha, dan tahun 2017 tersisa 649,179 ha.
Sementara data Badan Pusat Statistik tahun 2016 menunjukan di Gorontalo terdapat 24 izin pertambangan bahan mineral, yang terdiri dari 21 Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan 3 izin Kontrak Karya (KK).
Di TNBNW bahkan terdapat satu perusahaan tambang terbesar yaitu PT Gorontalo Mineral dengan kontrak karya seluas 36.070 hektar. Lokasi perusahaan tambang tersebut sebelumnya merupakan bagian dari kawasan hutan TNBNW, sebelum dialihfungsikan menjadi kawasan bukan hutan tahun 2010 silam.
Perubahan fungsi hutan itu diusulkan oleh Gubernur Gorontalo (Nomor 522/Bappeda/422/XI/2008, 9 Desember 2008 dan Nomor 910/Bappeda/050/IV/2009, 27 April 2009). Kemudian disahkan oleh Menteri Kehutanan saat itu, Rachmat Witoelar, dengan menerbitkan Surat Keputusan nomor 324/Menhut-II/2010.
Kehadiran perusahaan menjadi penyumbang terbesar deforestasi di wilayah tersebut. Belum termasuk perusahaan lain beserta pertambangan emas tanpa ijin (PETI), yang belum diketahui berapa luasnya.
Pada pertengahan tahun 2020, periode bulan Juni-Juli, wilayah di sekitar TNBNW dilanda banjir dan longsor secara beruntun.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Gorontalo menyebutkan, banjir beruntun itu berdampak pada 31.679 jiwa yang tersebar di Kota Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo, dan juga Kabupaten Boalemo.
Lembaga pemerhati lingkungan Gorontalo seperti Jaring Advokasi Sumber Daya Alam (Japesda) menilai, bala berupa banjir ini disebabkan oleh rusaknya hutan di bagian hulu sungai, yang merupakan habitat si burung penolak bala.
“Kehadiran konsesi perusahaan ekstraktif seperti pertambangan dan perkebunan, ikut memberikan sumbangsih besar terhadap deforestasi di Gorontalo,” kata Direktur Japesda, Nurain Lapolo, dalam siaran pers bertanggal 8 Juli 2020.
Japesda pun memberikan rekomendasi kepada pemerintah Provinsi Gorontalo, untuk segera mengevaluasi konsesi perizinan bagi perusahaan ekstraktif seperti pertambangan, perkebunan sawit, dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Serta melakukan regenerasi kawasan hutan dan lahan yang telah rusak parah.
“Pemerintah harus menindak tegas pelaku dan korporasi perusak kawasan hutan dan lahan, seperti perusahaan yang mengubah fungsi hutan menjadi perkebunan dan pertambangan, pertanian, serta peruntukkan lainnya,” tegas Nurain.
Sementara Hanom Bashari, ahli konservasi burung menjelaskan, Julang Sulawesi bukan jenis yang umum diburu untuk diperdagangkan karena bukan komoditas yang laku dijual. Menurutnya, keterancaman jenis ini terutama karena berkurangnya hutan primer yang menjadi habitat utama.
“Deforestasi membuat Julang Sulawesi ini mengalami penurunan sampai 40% dalam lebih dari 3 generasi kehidupan mereka belakangan ini,” katanya.
Hanom sudah malang melintang di hutan-hutan Sulawesi. Dia pernah bergabung dengan Burung Indonesia dalam program konservasi burung endemik Sulawesi di Gorontalo dan sekitarnya. Selain itu, dia juga pernah menjadi bagian dari Birdlife Indonesia, organisasi konservasi internasional yang bergiat dengan keterlibatan masyarakat, untuk melindungi semua jenis burung di dunia dan habitatnya.
“Hal kritis dari kehidupan Julang yaitu saat mereka berbiak. Mereka butuh pohon-pohon besar dan tinggi untuk mendapatkan lubang sarang. Harusnya itu tersedia di kawasan-kawasan konservasi,” terang Hanom.
Hanom menyebut, selama ini belum banyak yang yang memiliki perhatian pada konservasi Julang Sulawesi. Baginya, pengaruh perburuan dan perdagangan tidak terlalu signifikan dalam penurunan jumlah Julang Sulawesi.
“Mempertahankan hutan yang ada adalah yang utama“pungkasnya.
Penulis: Franco Bravo Dengo - Jurnalis Lepas Gorontalo












