Dulohupa.id- Petani di Kabupaten Gorontalo rupanya harus bersiap gigit jari. Sebab, 317 hektar (Ha) sawah yang terendam banjir bandang, pada Rabu sore (5/5) kemarin, terancam gagal panen.
Dari informasi yang dihimpun dulohupa.id, ratusan hektar itu tersebar di Desa Hutabohu dan Desa Padengo, Kecamatan Limboto. Di kawasan ini, sedikitnya 50 Ha terendam, dengan usia padi berkisar 7-14 hari. Sedangkan di Kelurahan Tenilo, ada sedikitnya 162 Ha dengan usia padi 14-30 hari. Kelurahan Bolihuangga 87 Ha, padi usia 30 hari, dan Kelurahan Hunggaluwa 18 Ha padi umur 25 sampai 30 hari.
Camat Limboto Barat, Fatma Tuna mengungkapkan, jika gagal panen, maka kerugian yang harus ditanggung oleh petani bisa mencapai puluhan juta.
“Untuk kerugian petani yang ada, menurut saya satu pantango kerugiannya 1 juta rupiah, sedangkan satu hektar bisa mencapai hingga 10 jutaan,” ungkap Fatma.
Tidak hanya merendam sawah, banjir bandang itu juga merendam ratusan rumah. Kepala BPBD setempat, Sumanti Maku mengungkapkan, bahwa terendamnya ratusan rumah dan sawah itu, akibat dua sungai di dua kecamatan setempat, meluap.

Sumanti merinci, sejumlah rumah yang terendam itu berada di Kecamatan Limboto Barat, Desa Padengo, Hutabohu, dan Haya-Haya. Sedangkan untuk Kecamatan Limboto, Kelurahan Tenilo, Bolihuangga, dan Hunggaluwa.
“Jadi totalnya rumah yang kena dampaknya sekitar 357 unit rumah milik warga dan kurang lebih 1300 jiwa masyarakat terdampak banjir. Diperkirakan air setinggi 80 cm lutut umur orang dewasa. Untuk Desa Pone sendiri masih sementara dilakukan pendataan dan pemantauan di lokasi,” jelas Sumanti.
Saat ini tim dari BPBD, Kepolisian dan TNI masih melakukan pemantauan dan peninjauan area yang rawan banjir.
“Tim reaksi cepat (TRC) saat ini masih turun ke lokasi untuk melakukan penanganan, diantaranya melakukan pemantauan, evakuasi, dan pendataan korban bencana. Dan juga tim sedang menyedot air di rumah warga dengan menggunakan alat alkon,” tandas Sumanti.
Reporter: Fandiyanto Pou












