DULOHUPA.ID- Sebuah pemandangan tidak biasa terlihat di depan Gereja Protestan Indonesia Gorontalo (GPIG) Sentrum, terlebih di malam hari menjelang perayaan Natal pada 25 Desember. Pemandangan itu karena tepat di depan gereja tersebut, berdiri sebuah pohon natal setinggi enam meter. Menariknya, pohon tersebut menggunakan 1.831 botol plastik bekas air mineral.
Pohon Natal dari botol bekas itu sendiri tidak hanya mengisyaratkan bahwa perayaan natal akan segera tiba, lebih dari itu, kemegahan pohon tersebut membawa pesan tentang lingkungan. Bahwa ada ribuan botol plastik bekas yang berserak dan mengancam lingkungan.
Kepada Dulohupa.id, Pendeta (Pdt) Oktavin Labuno Moses menjelaskan, bahwa botol air mineral bekas yang disulap jadi pohon natal tersebut, adalah bentuk kampanye lingkungan oleh pengurus gereja. Sebab, mereka kata Oktavin resah melihat begitu banyaknya botol plastik bekas.
Jadi motivasi pengurus gereja membangun pohon tersebut dengan bahan tersebut adalah, “Untuk mempergunakan sampah-sampah yang sudah tidak berguna untuk dikreasikan seperti ini, supaya ketika orang menggunakan (botol air bekas) aqua itu, tidak dengan sendirinya dibuang begitu saja karena ada manfaat serta faedahnya yang luar biasa,” ungkap Oktavin.
Selain itu kata Oktavin, jika dibandingkan dengan bahan lainnya, merancang pohon natal dari botol bekas sebetulnya lebih murah. Hanya saja, membutuhkan ketelitian, dan perjuangan yang besar.
“Kalau diperhitungkan botol bekas ini lebih irit serta lebih hemat, karena kalau pohon natal semegah ini, seukuran ini, terus seperti yang kita pakai dalam rumah tentu dua kali lipat biayanya. Jadi walaupun memang terbilang agak besar tetapi lebih irit ketika kita menggunakan media dari botol aqua bekas ini,” ujar Oktavin.
Terkait dengan penggunaan botol plastik sebanyak 1.831, kata Oktavin karena angka tersebut adalah tahun berdirinya gereja tersebut. “Ya jadi penyusunan menggunakan botol Aqua bekas sebanyak 1831 buah botol, ini menunjukkan waktu berdirinya gereja sentrum Gorontalo,” jelas Oktavin, Sabtu (5/12).
Saat ini, banyak masyarakat Gorontalo yang kemudian tertarik dengan pohon natal tersebut. Beberapa ada yang sekedar lewat, namun karena terpikat dengan kemegahan pohon tersebut, lalu mampir dan berfoto.
“Pengunjung yang datang berfoto kita beri peluang untuk selfie di sini, tetapi kita hanya membuka pada malam hari dan juga ada batas waktu, serta bagi pengunjung yang datang harus mentaati protokol kesehatan,”tutup Oktavin.
Reporter: Yusuf Konoli











