Dulohupa.id – Dusun Waolo merupakan wilayah permukiman terisolir yang terletak di Desa Molotabu, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Letak Permukiman di atas pegunungan menjadikan dusun Waolo dikaruniai dengan berbagai potensi sumber daya alam.
Dusun Waolo berada jauh dari hiruk pikuk pusat pedesaan atau kantor desa yang berada di Jalan Trans Sulawesi, pasalnya untuk menuju ke dusun tersebut dibutuhkan waktu perjalanan selama kurang lebih 2,5 jam. Akses jalan menuju dusun Waolo hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki, karena kondisi jalan setapak bebatuan yang landai naik, kemudian turun dan naik lagi. Lokasi dusun Waolo yang berada jauh dan terletak pada ketinggian menjadikannya dusun yang dikenal sebagai Puncak Waolo.
Disamping itu, dusun Waolo juga memiliki potensi wisata alam berupa air terjun yang berada tidak jauh dari pemukiman masyarakat setempat. Namun, mata pencaharian masyarakat Dusun Waolo hanya mengacu pada hasil pertanian jagung, kacang tanah dan cabai dengan hasil panen yang sangat terbatas, sehingga sulit untuk mengalami kemajuan dan grafik peningkatan ekonomi pun tidak menunjukan kenaikan. Hal tersebut karena sistem pemanfaatan kawasan hutan dan potensi yang dimiliki belum dikembangkan dan masih bersifat monoton.

Pemahaman masyarakat terkait dengan perkembangan-perkembangan atau strategi dalam pengelolaan perkebunan dan potensi sumber daya alam masih sangat minim. Hal ini tidak lepas dari latar belakang pendidikan yang ada di dusun Waolo yang cukup memprihatinkan dan dapat dilihat dari fasilitas pendidikan yang sangat minim. Aksesibilitas serta jaringan internet juga menjadi faktor yang begitu mempengaruhi keterbatasan pemahaman dan perkembangan ilmu pengetahuan masyarakat Dusun Waolo.

Berdasarkan data penduduk Desa Molotabu, Dusun Waolo merupakan dusun dengan jumlah penduduk terendah dibandingkan 3 dusun lainya. Jumlah penduduk dusun Waolo sebanyak 283 orang dari 74 kepala keluarga. Data pelajar SD, SMP dan SMA dari dusun Waolo semuanya berjumlah 103 Orang dan lebih disayangkan tidak ada pelajar yang melanjutkan studi S1 ataupun D3, hal ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran tentang pentingnya pendidikan dan dipengaruhi minimnya informasi mengenai ketersediaan beasiswa kuliah yang mampu menjawab tantangan faktor ekonomi masyarakat dusun Waolo.
Kondisi perekonomian masyarakat yang terbilang dibawah juga menjadi alasan para generasi muda tidak melanjutkan jenjang pendidikan dan memilih untuk bekerja dan membantu keluarga dalam mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Hingga saat ini, Fasilitas Pendidikan yang ada di dusun Waolo baru tersedia SD, sementara bagi pelajar SD yang telah lulus hanya bisa melanjutkan studi dijenjang SMP dan SMA yang ada di pusat desa.
Namun untuk melanjutkan jenjang pendidikan, mereka harus menempuh jalur yang terbilang sulit, yakni dengan menempuh waktu kurang lebih 5 jam dalam setiap harinya dengan berjalan kaki melintasi jalan setapak dan menyebrangi banyak sungai. Parahnya, ketika hujan turun para siswa harus menghadapi jalan yang sangat licin dan sulit untuk dilalui.
Bukan hanya tentang bagaimana perjuangan para siswa dalam meraih pendidikan dengan menempuh perjalanan yang begitu panjang, namun kita perlu melirik atas perjuangan guru yang menjadi tenaga pengajar di sekolah yang berada di Dusun Waolo. Pasalnya, demi menjalankan tugas dalam memberikan pendidikan kepada siswa yang ada di Dusun Waolo, para guru rela harus menempuh jarak yang jauh dengan berjalan kaki tiap harinya.
Salah seorang guru yang mengajar disekolah dasar yang berada di Dusun Waolo, Hasan Djaini mengaku bahwa dirinya dan rekan-rekan guru lainnya harus menjalankan tugas sebagai tenaga pendidik, meskipun harus menempuh jarak dan waktu yang cukup melelahkan. Namun baginya hal tersebut sudah menjadi kewajiban dan seiring berjalannya waktu, mereka mulai terbiasa dengan medan yang cukup ekstream.
Hasan menyampaikan bahwa hingga saat ini para guru, siswa dan tentu masyarakat dusun Waolo mengeluh persoalan akses jalan yang sangat buruk ditambah dengan melewati sejumlah sungai. Parahnya ketika hujan mengguyur, jalan tersebut tidak dapat dilalui akibat licin dan rawan terjadi longsor yang menutupi jalan. Hal tersebut, menurutnya menjadi salah satu keluhan dan menjadi penghambat dalam memaksimalkan system pendidikan maupun perekonomian masyarakat dusun Waolo.
Dusun Waolo juga masih mengalami keterbatasan dalam persoalan listrik dan jaringan internet, masyarakat dusun Waolo hanya menggunanakan tenaga surya yang belum memadai. Sementara untuk mendapatkan akses jaringan internet masyarakat dusun harus turun ke pusat desa. Bahkan masyarakat yang mempunyai Handphone baru beberapa orang. Fasilitas penunjang usaha yang tercatat dalam data desa Molotabu hanyalah 9 unit sepeda motor yang telah dimodifikasi dan 5 unit Chain Saw yang tentunya fasilitas ini tidak seimbang dengan jumlah masyarakat serta sulit untuk menunjang kehidupan usaha masyarakat dusun Waolo itu sendiri.
Keterbelakangan ekonomi yang dialamai oleh masyarakat dusun Waolo tidak lepas dari jenis mata pencaharian masyarakatnya yang mayoritas berprofesi sebagai Petani dan beberapa orang bekerja sebagai Buruh. Mayarakat yang bekerja sebagai petani membuka lahan dan menanam jagung, kacang tanah dan cabai dengan cara yang umum dan berdampak pada perekonomian masyarakat yang cenderung tidak mengalami perkembangan.
Selain system pertanian yang monoton, kondisi lahan pertanian yang terjal menjadi kendala dalam meningkatkan hasil pertanian. Sementara masyarakat yang beprofesi sebagai buruh hanya bekerja ketika ada yang membutuhkan jasa mereka dengan gaji yang tidak menentu.
Sisi lain dari banyaknya faktor penghambat meningkatnya ekomomi masyarakat dusun Waolo adalah potensi dusun yang belum dikembangkan. Dusun Waolo merupakan dusun yang memiliki luas lahan yang cukup besar untuk bisa dimanfaatkan serta dioptimalkan dalam sektor pertanian dengan tetap mempertahankan kelestarian lingkungan. Selain itu letak geografis dusun yang berada dipuncak bisa didesain menjadi tempat wisata, dusun ini juga memiliki potensi wisata air terjun yang jatuh dari ketinggian kurang lebih 20 meter, selain itu suhu yang ada di dusun Waolo akan mendukung kualitas beberapa tanaman yang akan digunakan dalam program.
Melihat potensi yang ada di dusun Waolo, masalah-masalah ekonomi tersebut sebenarnya mampu diselesaikan serta menjadi perhatian khusus bagi pemerintah desa Molotabu untuk menyelesaikan tantangan-tantangan ekonomi masyarakatnya. Melalui Program Agrowisata Berbasis Polikultural dan Pengembangan Potensi Wisata Air Terjun yang Ada di Dusun Waolo, diharapkan mampu mengawal perkembangan pengetahuan, pengalaman serta ekonomi masyarakat dusun Waolo.
Dibalik keterbatasan infrastruktur dan fasilitas lainnya, dusun waolo sejatinya menyimpan begitu banyak potensi sumber daya alam yang seharunya dapat menunjang perekonomian masyarakat dan dapat memberikan kontribusi kepada daerah. Namun karena masih kurangnya pemahaman terhadap bagaimana dalam memanfaatkan sumber daya alam secara efisien dan maksimal, potensi yang ada belum mampu membawa perubahan terhadap perekomian masyarakat. Sehingga permasalahan tersebut mendapat perhatian khsusus oleh beberapa kelompok mahasiswa di Universitas Negeri Gorontalo dalam membangun dan mengembangkan dusun Waolo untuk menjadi daerah yang mampu memberikan sesuatu yang berbeda.
Program pembuatan kawasan Agrowisata buah berbasis Polikultur dan pembenahan wisata air terjun menjadi salah satu bentuk usaha dan upaya yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa Pecinta Alam Reksa Wana Fakultas Hukum UNG untuk menjadikan dusun Waolo sebagai daerah yang nantinya akan dilirik oleh masyarakat umum dan juga pemerintah daerah Kabupaten Boalemo.
Aryo Polamola yang menjadi ketua Tim dalam pelaksanaan program tersebut mengungkapkan bahwa program tersebut adalah upaya untuk membangun dan menunjukan bahwa dusun Waolo dapat memberikan kontribusi kepada pemerintah meskipun dengan kondisi infrastruktur dan fasilitis yang sangat minim.
Aryo menegaskan bahwa dirinya bersama masyarakat dusun Waolo akan membuktikan bahwa potensi yang ada akan kelola dengan baik. Program demikian mendapat sambuatan hangat oleh masyarakat dusun Waolo yang dibuktikan dengan partisipasi masyarakat dalam setiap pelaksanaan kegiatan, mulai dari pembersihan lahan, pembuatan lubang tanaman buah, membuat pagar hingga melakukan penanaman bibit buah yang disediakan serta melakukan pembenahan dan penataan wisata air terjun yang begitu memukau.

Sementara Hasan Djamaini yang juga merupakan salah satu anggota BPD Desa Molotabu dan menjadi salah satu tokoh yang mempunyai peran penting dalam setiap aktivitas di dusun Waolo turut mengatakan bahwa program itu diharapkan akan membawa perubahan terhadap perekonomian masyarakat. Dirinya dan masyarakat hanya berharap program demikian bisa mendapat dukungan dan perhatian dari pemerintah Kabupaten Bone Bolango.
Menurut Hasan, pemerintah Bone Bolango harus mensriusi persoalan akses jalan menuju dusun Waolo serta aliran listrik yang masih sangat miris. Akses jalan menjadi sangat penting dalam membantu proses usaha perekomian masyarakat serta memudahkan para tenaga pendidik untuk menjangkau sekolah tempat mereka mengajar.
Tepat diusia yang ke-20 Tahun, Kabupaten Bone Bolango hadir dengan begitu banyak prestasi dan perkembangan pembangunan infrastruktur yang sangat pesat. Namun pemerataan ekonomi dan pembangunan infrastruktur maupun fasilitas yang mendukung tata kehidupan sosial masyarakat harus menjadi perhatian khusus oleh pemerintah.
Pemerataan yang dimaksud bukan hanya dalam bentuk pembangunan infrastruktur, namun diharapkan pemerintah mampu menyentuh dan melihat para generasi muda yang tidak mampu melanjutkan jenjang pendidikan akibat keadaan ekonomi keluarga. Dalam artian kehadiran Beasiswa yang selalu digaungkan oleh pemerintah harus sampai kepada daerah-daerah yang diplosok dan terisolir.
Penulis: Kris












