Dulohupa.id – Tadarus puisi yang digelar Teater Peneti Gorontalo kolaborasi dengan sekolah SMA Negeri 1 Telaga diharapkan mampu tingkatkan minat baca para siswa dan terutama masyarakat Gorontalo pada umumnya.
Hal itu disampaikan pembina teater Peneti, Julkifli Lubis ditemui saat usai membuka kegiatan tadarus puisi di sekolah SMA Negeri 1 Telaga yang rencananya akan digelar selama 7 hari 7 malam, Senin (02/1/2023).
“Harapannya keinginan dan minat baca siswa dan masyarakat pada umumnya itu lebih meningkat lagi. Karena kecenderungan anak-anak sekarang bacaannya kurang sekali, dengan ini minimal mereka membaca. Kedepannya semoga pihak sekolah punya inisiasi lebih untuk itu,” harap Julkifli Lubis.
Tadarus Puisi sendiri memang rutin tiap tahun digelar oleh teater Peneti, yang awal mulanya digelar sejak tahun 2012 silam, dan bertahan hingga saat ini. Satu sampai tiga kali itu dilakukan didalam kampus, namun saat ini digelar diluar kampus. Artinya digelar untuk masyarakat dan publik itu sendiri.
“Tadarus Puisi itu kegiatan tahunan sebenarnya yang memang salah satu agenda Peneti. Jadi memang sejak tahun 2012 kita melakukan itu sampai hari ini. Satu sampai tiga itu Peneti yang lakukan di kampus. Setelah itu keluar kampus, jadi sudah milik masyarakat, milik publik,” ujarnya.
Dirinya juga menjelaskan Tadarus Puisi ini bukan sebagai ajang gagah-gagahan, berlama-lama tidak berhenti membaca puisi. Akan tetapi, bagaimana puisi itu dapat dinikmati. Karena puisi itu bercerita tentang kehidupan, tentang manusia, tentang sifat-sifat manusia.
“Disamping membaca ada pojok-pojok diskusi, mendiskusikan apa yang dibaca,” jelasnya.
Disamping itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Telaga, Dr. Ester Yunginger M.pd, berharap dengan dilakukan Tadarus Puisi disekolah mampu membangkitkan minat dan baca siswa. Puisi juga ini menurutnya mengandung syarat makna.
“Jadi kalau orang yang bisa bedah sebuah puisi, baca puisi, insyaallah nurani dan hati mereka menjadi orang yang bijaksana. Oleh karena itu kami menantikan anak-anak bisa berada disini mulai malam ini selama tujuh hari tujuh malam. Siapapun siswa, masyarakat, bisa datang kesini membaca puisi,” tandasnya.
Reporter: Hendrik Gani












