Scroll Untuk Lanjut Membaca
LINGKUNGANPEMPROV GORONTALO

Strategi dan Kebijakan Pengurangan Emisi Sektor Pertanian

×

Strategi dan Kebijakan Pengurangan Emisi Sektor Pertanian

Sebarkan artikel ini
Pengurangan Emisi Pertanian
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, Muljady Mario saat memaparkan materinya pada Workshop Strategi Pengurangan Emisi. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Kelompok kerja (Pokja) Results-Based Payment (RBP) REDD+ Green Climate Fund Output 2 Provinsi Gorontalo melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) serta Wahana Mitra Mandiri melaksanakan Workshop strategi pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang berlangsung di Hotel FOX Kota Gorontalo, Senin 22-23 Desember 2025.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kapasitas para pemangku kepentingan untuk merencanakan dan mengimplementasikan langkah-langkah mitigasi emisi yang terukur dan berkelanjutan di tingkat daerah.

Salah satu materi yang dipaparkan adalah Strategi dan Kebijakan Pengurangan Emisi Sektor Pertanian. Materi tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, Muljady Mario.

Muljady menyampaikan, aktivitas pertanian juga dapat berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca (GRK) dalam mengendalikan perubahan iklim. Sehingga perlunya strategi mitigasi yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan.

Dirinya menyebut aktivitas pertanian yang menyebabkan emisi GRK dari penggunaan pupuk nitrogen (N₂O), Peternakan ruminansia (CH₄ dari kotoran dan proses pencernaan), penggunaan mesin pertanian berbahan bakar fosil (CO₂), Pembakaran biomassa (CO₂), Pengolahan tanah (CO₂).

Dari aktivitas pertanian itu memerlukan strategi seperti menggunakan pupuk nitrogen yang lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Kemudian Gunakan pakan yang lebih berkualitas dan rendah serat, serta lakukan pengelolaan kotoran yang lebih baik untuk mengurangi emisi CH₄. Sementara pengolahan biomassa harus lebih ramah
lingkungan, seperti pengkomposan.

“Untuk penggunaan mesin pertanian, lebih ke efisien dan ramah lingkungan. dan gunakan bahan bakar alternatif seperti biodiesel atau bioetanol. Sedangkan dalam pengolahan tanah gunakan tanaman penutup tanah untuk mengurangi erosi dan meningkatkan kesuburan tanah, serta lakukan reboisasi dan penghijauan untuk menyerap CO₂,” papar Muljady.

Ia meminta kepada pihak terkait mengedukasi petani tentang pentingnya pertanian ramah lingkungan dan mengurangi emisi gas rumah kaca . Kebijakan pemerintah juga dapat meningkatkan infrastruktur pertanian, seperti irigasi dan jalan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

“Yang paling terpenting adalah meningkatkan akses petani ke teknologi pertanian yang ramah lingkungan dan efisien,” pinta Muljady.

Dirinya berharap meningkatkan kerjasama antara petani, pemerintah, dan lembaga lainnya untuk meningkatkan pertanian ramah lingkungan.

Untuk diketahui, Workshop Strategi Pengurangan Emisi dilaksanakan oleh Kelompok kerja (Pokja) Results-Based Payment (RBP) REDD+ Green Climate Fund Output 2 Provinsi Gorontalo melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) serta Wahana Mitra Mandiri. Adapun Peserta workshop terdiri dari organisasi perangkat daerah lintas provinsi, organisasi perangkat daerah lintas kabupaten/kota, UPT Balai Kementerian Kehutanan, serta unsur Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Gorontalo.

Reporter: Enda