Dulohupa.id – Kelompok kerja (Pokja) Results-Based Payment (RBP) REDD+ Green Climate Fund Output 2 Provinsi Gorontalo melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) serta Wahana Mitra Mandiri melaksanakan kegiatan Training Peningkatan Kapasitas Tim Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Dari Enam (6) Unit KPHP/KPHL.
Kegiatan ini yang digelar di FOX Hotel pada 27-28 Desember 2025 itu dibuka langsung oleh kepala Dinas LHK Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka.
Fayzal dalam sambutannya menekankan tim pengendalian karhutla garda terdepan memiliki kontribusi yang besar dalam penurunan emisi gas rumah kaca di Indonesia. Ia meminta para Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) maupun Polisi Kehutanan terus meningkatkan profesionalisme dan kompetensi.
Menurutnya peningkatan kapasitas kelembagaan dalam hal ini KPH itu harus butuh pendampingan dan suport dari berbagai pihak untuk mengoptimalkan perannya sebagai ujung tombak pengelolaan hutan lestari di tingkat tapak.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada polisi Kehutanan di lingkup KPH untuk mengetahui prosedur dan teknologi dalam menangani kebakaran hutan. Tujuan lainnya, adalah mempererat hubungan antara masyarakat dengan instansi terkait seperti pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan pihak lainnya yang terlibat dalam penanggulangan karhutla.
“Terus apa hubungannya dengan perubahan iklim?. Kita tidak menyadari bahwa dalam kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan, dimana kita menanam atau mengendalikan kebakaran hutan dan lahan, itu termasuk memitigasi perubahan iklim,” papar Fayzal.
“Kalau berbicara perubahan iklim, yang kita tahu paling dekat itu adalah cuaca. Tiba-tiba panas, tidak ada tanda-tanda apa segala macam, tiba-tiba sudah hujan. Ini contoh kecilnya,” sambungnya.
Ia mengakui bahwa personel di lingkup DLHK masih terbatas untuk melakukan kegiatan pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
“Maka dari itu, bagaimana caranya memanfaatkan keterbatasan ini, yakni harus mampu menguasai, memahami dan mengetahui dari sisi pengetahuan dan pemahaman kita,” tegasnya.
Tim pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di tingkat KPH diminta meningkatkan koordinasi erat dengan pemerintah daerah (BPBD, DLH), TNI/Polri (Babinsa), dan unit terkait lainnya. Hal ini bertujuan untuk deteksi dini, sosialisasi, pelatihan, patroli, hingga pemadaman awal, dengan tujuan menjaga kelestarian hutan dan lingkungan secara terintegrasi.
Fayzal menyebut peningkatan kapasitas ini mendapatkan suport dari negara yang berlomba-lomba mengantisipasi perubahan iklim secara global. Bagi Gorontalo, Fayzal telah berupaya dengan melakukan kolaborasi berbagai pihak yang terlibat, bahkan Gorontalo mendapat Suport dari program RBP REDD+. Artinya negara-negara luar yang sudah tidak memiliki kawasan hutannya mencari negara-negara tropis yang masih punya kawasan hutannya. Sehingga mereka memberikan suport dengan kepada negara-negara yang masih punya kawasan hutan untuk sama-sama mereka mengajak berkontribusi untuk menjaga hutan.
“Kalau mau dipikir apa untungnya buat mereka? Sementara kalau melihat untung, setiap keuntungan secara langsung mungkin itu tidak dapat kita lihat. Tetapi, aturan internasional itu membahasakan bahwa negara-negara yang industri maju ini dianggap oleh lembaga internasional itu sangat mempengaruhi atmosfer dan lapisan bumi kita,” papar Fayzal.
“Maka di dalam regulasi internasional, aturan internasional mereka dikenakan wajib untuk menyisihkan uangnya untuk mencari negara-negara yang ada di daerah tropis yang masih memiliki kawasan hutan untuk mereka menjaga dan melestarikan kawasan hutan,” pungkasnya.
Reporter: Enda











