Dulohupa.id – Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) serta Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo memberikan sosialisasi serta mengkampanyekan produk kental manis bukan susu kepada masyarakat. Kegiatan tersebut digelar di room meeting RM Anjungan DC2, Kota Gorontalo, Selasa (10/10/2023).
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Anang Otoluwa, pada acara sosialisasi mengatakan bahwa masalah gizi di Gorontalo salah satunya diakibatkan karena adanya kesalahan persepsi mengenai pangan di masyarakat.
“Memang iklan ini (kental manis adalah susu) dari produsen sangat menancap di masyarakat dan menjadi mindset ibu-ibu yang mengatakan kental manis adalah susu. Maka dari itu, hasil pertemuan ini harus disebarkan bahwa kental manis bukan susu,” papar Anang kepada media.
Sementara Wakil Ketua Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, Chairunnisa mengatakan bahwa, Aisyiyah merupakan salah satu organisasi Perempuan terbesar yang juga memiliki kader kesehatan yang tersebar di seluruh Indonesia, melalui program GRASS PP Aisyiyah.
Organisasi ini berkomitmen bergerak secara berkelanjutan dari pusat hingga ranting untuk selanjutnya bergerak selaras dengan pemerintah dan YAICI untuk menyelesaikan permasalahan stunting yang ada di Indonesia, serta meluruskan persepsi masyarakat mengenai peruntukan kental manis yang selama ini disalahpahami sebagai minuman pengganti susu bagi balita.
“Setelah pelatihan ini, GRASS akan menjadi program berkelanjutan dan juga merupakan program nasional bagi Aisyiyah yang harus dijalankan dari tingkat pusat hingga tingkat ranting. Jadi tidak selesai sampai sini tapi berkelanjutan” jelas Chairunnisa.
Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah bersama YAICI selain menggelar sosialisasi juga melakukan kegiatan lapangan berbentuk edukasi door to door ke masyarakat.
YAICI banyak menemui para balita mulai mengalami stunting ketika sudah lepas ASI Ekslusif dan diberikan makanan pendamping ASI. Hal ini selain disebabkan pemberian pangannya yang berantakan seperti pemberian kental manis dan minuman manis lainnya pada balita.
Mengetahui fakta lapangan tersebut, Ketua Harian YAICI, Arif Hidayat, mengatakan bahwa stunting di Gorontalo terjadi karena dua faktor yang saling berkaitan yaitu adalah angka kemiskinan esktrem masyarakat Gorontalo. Faktor inilah rentan menimbulkan salah persepsi di mata masyarakat terutama mengenai asupan makanan dan minuman yang diberikan kepada balita, serta belum terbentuknya budaya pemberian pangan tinggi protein.
“Sebenarnya kemiskinan ekstrem dan kesalahan persepsi yang ditimbulkan dari iklan massif produsen sejak bertahun-tahun menjadi dua faktor dominan yang saling berkaitan membuat orang tua memberikan kental manis pada balitanya,” ungkap Arif.
“Aisyiyah sudah bergerak dengan GRASS-nya untuk mengedukasi masyarakat tentang gizi, dan YAICI juga sudah lakukan edukasi kental manis bukan susu serta pemenuhan gizi seimbang pada masyarakat Indonesia. Pemerintah dalam hal ini tidak boleh absen dan perlu merancang program berkelanjutan yang membentuk budaya konsumsi dan peberian pangan tinggi protein bagi balita,” Pungkasnya.
Reporter: Yayan











