Scroll Untuk Lanjut Membaca
FeatureINFO COVID-19PERISTIWA

Pil Pahit Pedagang Kaki Lima Gorontalo di Masa Pandemi Covid-19

×

Pil Pahit Pedagang Kaki Lima Gorontalo di Masa Pandemi Covid-19

Sebarkan artikel ini
Iswan Mantulangi akan berjualan Siomay

Dulohupa.id-Pria itu tampak sibuk. Ia memarkirkan kendaraannya di bibir jalan di kawasan Mato Bone Bolango, sebuah kawasan di Kabupaten Bone Bolango yang kerap disamakan dengan kawasan Malioboro di Yogyakarta. Sore itu, seperti biasa, Iswan Mantulangi akan berjualan Siomay. Jualan yang ia bawa dengan sepeda motor itu tampak segar karena baru saja dibuat. 

Sejak berjualan di kawasan tersebut, pria berusia 31 tahun itu bercerita, ia bisa meraup omset hingga Rp 900 ribu. Jumlah itu didapatkan dengan berjualan pada puku 4 sore hingga 12 malam. 

“Semenjak sudah jualan disini, alhamdulillah sudah ada Rp 900 ribu, sudah minimal satu juta,” ujarnya, Sabtu (29/5). 

Pria murah senyum ini bercerita, jika setiap hari lapaknya kerap ramai didatangi pengunjung. Karena memang, kawasan itu adalah kawasan wisata yang menjadi tempat nongkrong anak muda maupun orang dewasa. Tidak hanya orang-orang dari wilayah Bone Bolango, namun juga orang dari Limboto Barat, Kampung Bugis, bahkan juga orang-orang dari Isimu yang jaraknya belasan kilometer dari kawasan itu. 

Namun, kegembiraan Iswan rupanya tidak bertahan lama. Sebab, pada medio 2020, pandemi Covid-19 mewabah di Gorontalo. Praktis, pemerintah melarang masyarakatnya untuk berkumpul. Tempat-tempat wisata pun dilarang buka. Kerumunan dibubarkan demi memutus rantai penyebaran Covid-19. Dengan kondisi itu, artinya Iswan ikutan terdampak. Penghasilannya yang awalnya Rp 900 ribu, hanya bertahan beberapa bulan saja setelah kawasan Mato Bonebol itu diresmikan. 

Pandemi Covid-19 adalah pil pahit yang harus ia telan, karena kehilangan banyak pelanggan yang lantas memangkas pendapatannya. Kawasan tersebut sudah jarang dikunjungi bahkan tidak sama sekali, dan itu telah membikin usahanya tersebut hampir gulung tikar. Beberapa kali ia tetap berjualan, demi memenuhi kebutuhan keluarganya, meski penghasilannya hanya berkisar Rp 200 ribu saja per hari.

Ia menceritakan, karena tak mau pulang dengan tangan hampa, ia pernah berjualan sambil keliling mencari tempat-tempat yang ramai untuk berjualan. Dari Kecamatan Tapa, melewati Ayula, jalan bengsol, tepatnya di Jl Poowo, lalu terus ke jalan dua susun, lalu mengintari di Kelurahan Moodu hingga menuju kembali ke Mato Bonebol tersebut, dan itu ia lakukan selama 6 bulan.

“Pendapatannya itu memang dalam satu hari itu, tidak sama. dalam satu hari saya bawa 1500 tusuk, pendapatannya itu, Rp 400 ribu per hari,” ucapnya.

Meski begitu, pria berasal dari Bulango Selatan tersebut mengucapkan syukur, karena masih bisa mendapatkan penghasilan walaupun terbilang sedikit, ia pun berharap semoga virus corona bisa cepat berlalu agar, pendapatanya bisa kembali seperti semula, “ke depannya ini, semoga (berdagangnya)  lancar terus, dan virus corona bisa segera hilang,” ucapnya penuh harap.

Hal sama pun tidak hanya dialami oleh Iswan. Pil pahit itu turut dirasakan oleh salah satu pedagang siomay, Suleman Utiarahman. Karena pandemi penghasilan yang diperoleh dari hasil penjualan siomay hanya berkisar Rp 200 ribu, dari sebelumnya mencapai Rp 800 ribu per hari.

Katanya, semenjak pandemi kawasannya berjualan sangat sepi, pun kadang diusir oleh petugas, meski kecewa namun ia tidak bisa berbuat banyak. Karena itu, ia pun kadang meninggalkan tempat tersebut, dan berpindah menuju di daerah Kota Gorontalo guna mencari tempat yang ramai.

“Cuman adanya corona kan kami digusur, kadang dia usir, dari pihak kepolisian satpol. Di saat jualan sepi kadang diusir lagi, dengan alasan menghindari kerumunan,” ujarnya.

Ia menuturkan, dari hasil yang Rp 200 ribu katanya, dibagi untuk keluarganya dan untuk modal usahanya, sangat sedikit. Bahkan ia harus melakukan pinjaman kepada kerabatnya, untuk mencukupi kebutuhannya tersebut. Meski begitu ia tetap menjalaninya dengan penuh rasa sabar dan tabah. Ia pun berharap semoga pandemi ini bisa segera berakhir, agar penghasilannya pun segera bisa pulih.

“Hasilnya pun dibagi untuk modal dan keluarga, kadang pinjam uang ke teman, karena untuk modal sudah tidak cukup,” ucapnya tersenyum.