Scroll Untuk Lanjut Membaca
HEADLINEPENAS Gorontalo

Datang ke PENAS, Petani Buntulia Ingin Perkara Sedimentasi jadi Perhatian Pemerintah Pusat

×

Datang ke PENAS, Petani Buntulia Ingin Perkara Sedimentasi jadi Perhatian Pemerintah Pusat

Sebarkan artikel ini
Petani PENAS
Peserta Kontingen Petani dari Kabupaten Pohuwato saat Mengikuti PENAS Tani dan Nelayan XVII di Kabupaten Gorontalo. foto/nal

Dulohupa.id – Petani di Kecamatan Buntulia dan Duhiadaa, Kabupaten Pohuwato rela meninggalkan pekerjaan di kampung demi menyampaikan aspirasi terkait areal persawahan di wilayah mereka yang sudah tidak bisa digunakan lagi akibat sedimentasi yang telah menumpuk lama.

Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Abdul Rahman Lukum menjelaskan, para petani datang ke Pekan Nasional (PENAS) Tani dan Nelayan yang ke VXII di Kabupaten Gorontalo agar aspirasi para petani yang kehilangan mata pencaharian bisa didengar oleh pemerintah pusat.

Abdul Rahman mengaku dirinya pada saat selesai pembukaan PENAS ingin menyampaikan penderitaan para petani ke Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka. Namun pada saat peserta diminta untuk naik ke atas panggung, dirinya bukan orang terpilih yang harus maju.

Kendati kata Abdul Rahman, dirinya sempat akan lari menuju ke atas panggung namun keburu ditahan oleh pengawal presiden.

“Ternyata ketiga peserta yang naik ke atas panggung itu sudah disetting, dan itu ternyata sudah di briefing terlebih dahulu. Padahal kita para petani dari Buntulia dan Duhiadaa ini datang kesini agar aspirasi yang kami bawah dapat tersampaikan ke Wapres atau Menteri Pertanian. Karena kami di Buntulia minim perhatian, bahkan masalah sedimentasi akibat pertambangan ilegal dan perusahaan sudah mematikan mata pencarian kami,” ungkap Abdul Rahman Lukum, Sabtu (20/6/2026).

Dirinya juga mengaku, kurang lebih 100 petani sudah kehilangan lahan sawah. Itu akibat sedimen lumpur yang masuk ke areal persawahan sudah tinggi dan para petani di dua wilayah itu ada yang tiga tahun, ada yang sudah dua tahun tidak lagi bertani.

“Ada yang sudah tiga tahun, ada yang dua tahun sudah tidak bertani akibat hasil panen tidak sesuai harapan. Yang ada hanya hutang yang menumpuk. Kami tidak menyalahkan penambang dan perusahaan. Cuma bagaimana dampak yang ditimbulkan tidak sampai ke kami para petani sawah. Kami minta solusi dari pemerintah,” tandasnya.

Disamping itu, Zulkifli Liputo juga menambahkan, khusus di Kecamatan Buntulia. Ia mengaku sudah dua tahun tidak lagi menanam padi sawah, itu juga akibat sedimentasi lumpur.

Bahkan dirinya sempat berpindah dari petani sawah ke petani hortikultura semacam menanam cabai. Namun pada akhirnya cabai itu juga tidak tumbuh sebagaimana mestinya.

Sebab, nutrisi tanah di areal persawahan mereka sudah hilang akibat sedimentasi lumpur yang bercampur partikel minyak, sehingga menyebabkan tanaman yang ditanam di wilayah itu tidak akan tumbuh dengan maksimal.

“Saya ini sudah coba beberapa tanaman. Saya sudah mengalihfungsikan lahan. Lahan yang tadinya biasa ditanam dengan padi sawah, kini saya sudah tanam dengan horti, namun hasilnya pun nihil,” tegasnya.

Reporter: Onal