Dulohupa.id – Sektor pertanian jagung di Gorontalo hingga kini masih menjadi mayoritas dan banyak digeluti masyarakat dalam menunjung perekonomian. Bahkan, lahan pertanian jagung kini merambah hingga ke lahan miring atau perbukitan demi meningkatkan hasil produksi pertanian.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Gorontalo, luas pertanian jagung dilahan datar hanya mencapai 10,16 persen, sementara dilahan miring mencapai hingga 89,84 persen. Kondisi ini kerap dihadapkan dengan tantangan dampak ekologi, mulai dari terjadinya erosi, longsor serta kerusakan lingkungan lainnya bahkan berimbas pada menurunnya kualitas kesuburan tanah.
Peningkatan produksi jagung untuk kebutuhan ekspor Gorontalo ini pun sejatinya harus dibarengi solusi dan praktik praktik yang mengendapkan ekologi atau sistem pertanian berkelanjutan tanpa mengurangi luas lahan dan hasil panen petani khusus dilahan miring.
Menjawab tantangan ekologi dan ketahanan pangan ini, sejumlah peneliti dari akademisi Universitas Negeri Gorontalo dan Universitas Ichsan Gorontalo bersama Syngenta berupaya malahirkan inovasi sistem pertanian berkelanjutan berbasis konservasi. Solusi sistem pertanian jagung berkelanjutan berbabasis konservasi ini pun digagas oleh dua peneliti, yakni Zulham Sirajuddin bersama Fardyansjah Hasan.
Solusi yang dihadirkan ini pun melalui berbagai tahapan dan proses panjang, mulai dari pengamatan di lapangan hingga analisis data. Hal ini dilakukan agar pemanfaat lahan miring untuk pertanian jagung lebih berkelanjutan dan mencegah dampak ekologi.
Zulham Sirajuddin mengungkapkan prinsip sistem usaha tani konservasi tanaman jagung meliputi pengelolaan lahan sesuai garis kontur dan pembuatan guludan untuk mengendalikan erosi serta konservasi tanah dan air.

Selanjutnya, Zulham mengatakan pentingnya penguatan teras melalui budidaya tanaman sela/penguat teras guludan selain tanaman utama dengan manfaat ekonomi dan lingkungan seperti rumput odot/gajah mini. Selain itu, pemilihan benih unggul, pemupukan berimbang hingga pemanfaatan limbah organik juga menjadi prinsip penting dalam sistem pertanian jagung berkelanjutan ini.
“Sistem usaha tani yang kami tawarkan pada lahan kemiringan terbatas atau dibawah 40 persen adalah dengan pendekatan konservasi yakni penggunaan pola tanam kontur dan membuat teras gulud yang diperkuat dengan rumput odot dan tentunya dapat dimanfaatkan petani untuk pakan ternak sapi. Sehingga petani dapat memperoleh hasil jagung dan rumput odot sekaligus mengurangi potensi erosi,” Jelas salah satu peneliti, Zulham Sirajuddin.
Lebih lanjut, hasil riset penerapan sistem usaha tani konservasi ini menunjukkan adanya penurunan laju erosi hingga 27 persen, menaikkan kadar C-Organik sebesar 28 persen. Tak hanya itu, ketersediaan nitrogen tanah juga naik sebesar 15 persen dan ketersediaan fosfor tanah naik hingga 45 persen serta meningkatkan produksi pipilan kering sebesar 9,5 persen.
Bahkan, solusi yang dihasilkan ini pun kini resmi dituangkan dalam bentuk buku panduan dengan judul sistem usaha tani konservasi jagung di lahan miring. Melalui buku ini, diharapkan dapat menjadi referensi bagi petani di Gorontalo maupun secara nasional dalam mengembangkan sistem pertanian jagung berkelanjutan dilahan miring yang dinilai memberikan berbagai dampak positif terhadap ekologi serta ketahanan pangan.
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo, Dr. Muhammad Mukthar mengatakan kolaborasi berbagai pihak sangat penting dalam menghadirkan solusi terhadap tantangan sektor pertanian jagung di Gorontalo.
“Kerjsama antar pihak sangat penting dalam mendorong adanya pengembangan metode baru yang lebih berkelanjutan dan bisa diterapkan oleh petani serta menjawab kebutuhan nyata di lapangan,” Ungkap Dekan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo, Dr. Muhammad Mukthar.
Sementara itu, Seed Marketing Head Syngenta Indonesia, Imam Sujono pun menegaskan pentingnya inovasi dan adopsi praktik bekelanjutan untuk mendukung pertumbuhan industri jagung dan ketahanan pangan Indonesia.
“Beragam tantangan dalam pertanian jagung kerap kita jumpai, salah satunya adalah masalah topografi lahan untuk budidaya. Dengan adanya buku panduan ini kami harap bisa menjadi solusi bahkan jadi referensi nasional bagaimana budidaya jagung bisa dilakukan dilahan miring secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan bahkan meningkatkan produktivitasnya,” Ujar Imam Sujono.
Hadirnya solusi yang kini telah dikemas dalam sebuah buku ini pun disambut antusias sejumlah petani jagung di Gorontalo. Salah satu petani asal Bone Bolango, Sofyan mengaku sangat tertarik mempelajari metode budiya konservasi yang dihadirkan. Menurutnya hal ini perlu dikembangan dan dicoba petani untuk menghasilkan produksi pertanian maksimal tanpa mengesampingkan dampak ekologi kedepan.
Redaksi











