Scroll Untuk Lanjut Membaca
AdvertorialINFO COVID-19PERISTIWA

Pemuda Torosiaje Ini Menggeliatkan Ekonomi Masyarakat di Tengah Pandemi

×

Pemuda Torosiaje Ini Menggeliatkan Ekonomi Masyarakat di Tengah Pandemi

Sebarkan artikel ini
Teripang jenis gamat yang memiliki harga jual tinggi. Teripang ini menjadi prioritas tangkapan nelayan bajo di Uwedikan, Luwuk Timur, Sulteng. Foto: Zulkifli

Dulohupa.id- Setahun lebih Covid-19 mewabah di Indonesia, berdampak pada perekonomian masyarakat. Ada yang kehilangan pekerjaan, usaha yang gulung tikar, dan perusahaan-perusahaan besar yang bangkrut akibat situasi yang masih belum membaik hingga sekarang ini.

Karena itu, situasi seperti ini, membuat masyarakat harus memiliki banyak akal untuk bisa bertahan.

Seperti yang dilakukan oleh Tomy R Umar, pemuda berusia 23 tahun di Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato. Ia berusaha bangkit di tengah pandemi, untuk memperbaiki perekonomian keluarganya dan masyarakat Torosiaje keseluruhannya.

Di awal pandemi kata Tomy, ia kaget melihat tangkapan ikan masyarakat Torosiaje, khususnya nelayan Bajo yang mulai menurun. Apalagi di tengah pandemi, daya beli masyarakat berkurang. Alhasil, secara ekonomi nelayan Bajo terdampak.

“Masyarakat nelayan di sini jelas terdampak secara ekonomi saat pandemi,” kata Tomy begitu lirih saat diwawancarai.

Ia kemudian mencari berbagai cara untuk membantu kesulitan masyarakat Torosiaje. Tomy kemudian melirik peluang dari harga jual teripang, yang ia dapatkan informasi melalui internet. Teripang sendiri memang sudah menjadi tangkapan nelayan bajo, yang dijadikan sebagai penopang ekonomi keluarga.

Kata Tomy, teripang merupakan biota laut yang punya nilai ekonomi yang bagus, karena memiliki nilai ekspor yang tinggi. Nelayan yang menangkap teripang dalam sehari bisa menghasilkan keuntungan Rp100 ribu hingga Rp500 ribu per harinya, bahkan bisa lebih banyak tergantung banyaknya tangkapan.

“Kalau banyak tangkapan, nelayan bisa mendapatkan keuntungan yang banyak. Kalau sedikit, yah, hasil juga sedikit,”katanya.

Menurut Tomy, jenis teripang yang memiliki harga paling tinggi dan banyak dicari nelayan ialah teripang jenis Gamat, dan ada juga jenis teripang lainnya yang memiliki harga di bawah.

Alat yang digunakan untuk menangkap teripang juga terbilang mudah, hanya butuh perahu, sepatu, senter, dan tombak.

Tidak hanya itu saja, semua kalangan, katanya, dapat menangkap teripang, baik dari kalangan anak-anak, orang dewasa, bahkan perempuan yang turun menangkap teripang di desa Torosiaje tersebut.

Menyadarkan Masyarakat dengan Budidaya

Tomy kemudian sadar, jika tangkapan nelayan terhadap teripang (sea cucumber) tidak merata, maka nelayan dan masyarakat akan merugi. Menurutnya, nelayan yang menangkap teripang tidak sesuai ukuran bisa berimbas pada harga jual teripang. Ukuran yang besar tentu memiliki harga jual yang lebih bagus dibandingkan dengan ukuran yang kecil.

Masalah lainnya juga, masyarakat belum mengetahui bagaimana cara membudidayakan teripang, di tengah harga jualnya yang sangat tinggi.

“Masyarakat menangkap teripang sembarang, tidak memperhatikan jenis, padahal kalau diperhatikan, masyarakat bisa memiliki penghasilan yang cukup baik,” jelasnya.

Ketertarikan Tomy terhadap teripang ini langsung membawanya ke habitat teripang laut yang ia cari melalui youtube. Ia berselancar ke semua informasi untuk mendapatkan informasi tambahan mengenai pola hidup teripang. setelah lama mencari, ia kemudian mendapatkan solusi, yaitu dengan membikin budidaya teripang, dengan tujuan dapat membantu perekonomian nelayan teripang di Torosiaje di tengah pandemi sekarang ini.

“Saya cari di google tentang proses hidup teripang laut. Lihat di youtube. Dan setelah mengetahui caranya saya buat budidaya teripang dengan metode keramba tancap,” tutur Tomy.

Karamba Tancap ini kata Tomy, merupakan sistem budidaya teripang yang dikelola secara alami. Teripang yang dibudidayakan di dalam keramba tersebut mencari makan secara alami juga, tanpa ada bantuan dari pakan yang telah disediakan.

“Konsep karamba tancap ini, yakni, kami akan membeli setiap tangkapan nelayan teripang. Baik yang kecil dan besar. Yang kecil akan kami taruh di karamba untuk kemudian dibesarkan lagi, tapi yang ukuran besar langsung kami jual kembali. Dan saat nelayan menjual teripangnya ke kami, akan kami berikan informasi kepada nelayan untuk memperhatikan ukurang dari teripang yang mereka tangkap,” jelasnya.

Untuk lama budidaya sendiri, jelas Tomy, membutuhkan waktu yang lumayan lama antara 1-2 dua tahun, baru bisa memasuki usia panen. Dari mulai pembibitan hingga masuk usia panen.

“Ada dua jenis teripang yang kami budidayakan, yaitu teripang gamat dan teripang putih. Untuk pasarannya sendiri dijual per kilogram,”

Bahkan kata Tomy, dua bulan terakhir rata-rata nelayan bajo mulai beralih tangkapan ke teripang, karena pengaruh harga teripang yang menjanjikan.

Alhasil, dengan metode budidaya keramba tancap yang ia gagas, dapat membantu memperbaiki ekonomi nelayan bajo di Torosiaje yang sebelumnya terkena dampak saat awal-awal pandemi datang di Indonesia khususnya di Gorontalo.

“Nelayan sudah mulai menangkap teripang, bahkan ada juga aparat desa yang tergiur dan mulai aktif menangkap teripang. Saya juga bersyukur, dengan adanya budidaya ini masyarakat terbantu secara ekonomi dan teredukasi tentang biota laut seperti teripang yang memiliki harga jual tinggi, apalagi sedang pandemi seperti sekarang ini,” ucap Tomy.

Ia berharap, dengan adanya budidaya ini dapat membantu perekonomian masyarakat Torosiaje meningkat di tengah situasi pandemi yang belum selesai, agar mampu secara finansial dan mengembalikan kembali kemampuan daya beli  di masyarakat menjadi normal.

*liputan ini untuk program Fellowship Jurnalis Perubahan Perilaku kolaborasi Dewan Pers dan Satgas Covid-19
Reporter: Zulkifli Mangkau