Dulohupa.id- Kana Fuddy Prakoso kembali menggelar pameran tunggal keempatnya. Pameran bertajuk “Bukan Fiksi[E] tapi Fakta” itu digelar di Rolling Doors Art Gallery, Jakarta selama dua belas hari, atau sejak 6 Agustus hingga 17 Agustus 2021.
Pameran yang dikurasi oleh Frigidanto Agung tersebut, mengungkap konsep sepeda secara estetika dalam simbol sebagai human power yang mempunyai perspektif estetis.
Kana, melalui berbagai sketsa sepedanya mencoba menghadirkan bagaimana sepeda menjadi cara pandang konseptual dalam membuat diskursusnya. Melalui katarsis subyek dan benda yang digerakan, Kana melihat dari permukaan bentuk sepeda dari sketsa-sketsanya lalu masuk ke dalam wilayah apresiasi bagaimana perkembangan sepeda dicatat.
Melalui catatan kurasinya mengungkapkan, tulisan Bukan Fiksi[E] Tapi Fakta sebenarnya diambil dari kata fixie.
“Biar terlihat kenyataan yang ada dan terlihat serta mencuri perhatian, saya tulis Fiksi[E], mempercayakan kata dalam pergumulan keseharian yang sedang tidak jelas ini. Sebuah pilihan harus diambil, supaya berpikir dan sehat pikiran. Menghadapi Fakta yang jelas bukan Fiksi[E],” ungkap Kana dalam press rilisnya.
Kana menjelaskan, bahwa mengayuh sepeda, seperti halnya mengayuh kehidupan. Dengan bersepeda, manusia tahu ke mana arah hidupnya, meski tidak secepat motor.
“Pakai motor terlalu diam tubuh kita, tak berkeringat. Kayuh nasib, biar terlihat masa depan,” kata Kana menjelaskan.
Karena itu, menurutnya sepeda seperti simbol percepatan gerakan, dan itu bukanlah fiksi, tapi fakta. Kayuhan pada pedal akan mempercepat sepeda sampai tujuan dengan memotong waktu jalan kaki.
“Material kardus untuk memperjelas eksperimen wacana estetika seni, sehingga terbaca dalam ruang. Ini menjadikan kekayaan penciptaan bahwa kardus yang semula barang bekas menjadi bungkus berbagai benda pabrikan, termasuk sepeda, dapat dijadikan medium dalam karya seni,” pungkas Kana Fuddy Prakoso.
**











