Dulohupa.id – Hari ini, tepat waktunya 5 tahun silam bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu Sulawesi Tengah (Sulteng). Tanggal 28 September 2018 menjadi hari tak terlupakan bagi masyarakat Sulteng khususnya.
Awalnya Sulteng diguncang gempa bumi berkekuatan 7,6 skala magnitudo, terus disusul datangnya tsunami yang menghancurkan beberapa kawasan pantai di sekitar Teluk Palu. Setelah gempa bumi tersebut, juga dilaporkan kejadian likuifaksi (pencairan tanah) yang masif, misalnya di wilayah Petobo dan Balaroa.
Laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat itu mencatatkan korban jiwa mencapai lebih dari 2.000 orang. Kerusakan yang terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Donggala, Kota Palu, dan Kabupaten Sigi, dengan jumlah kerugian ekonomi yang besar.
“Dalam penelitian yang saya lakukan dan dipublikasikan di jurnal ilmiah Pure and Applied Geophysics (Sianipar, 2020), gempa bumi Palu terjadi pada 28 September 2018 pada pukul 18:42 WITA dan disebabkan oleh aktivitas Zona Sesar Palu-Koro. Gempa bumi ini memiliki tipe sesar geser mendatar mengiri (left-lateral strike-slip fault),” tulis Dimas Salomo J. Sianipar, seorang pakar gempa BMKG.
“Bagi para ahli kebumian (geoscientist), belum ada konsensus mengenai apa sebenarnya pemicu tsunami Palu 2018. Tetapi, riset mengerucut pada dua penyebab. Yang pertama, tsunami dipicu oleh pergerakan batuan saat gempa bumi. Hasil yang pertama ini cukup diperdebatkan karena umumnya, tsunami sulit terjadi oleh pergeseran sesar mendatar (strike-slip faulting). Kedua, tsunami dipicu oleh adanya longsoran bawah laut di sekitar Teluk Palu. Ada juga yang mengkombinasikan keduanya atau kompleksitas alam lainnya, seperti efek dari batimetri atau topografi di sekitar Teluk Palu,” tambah dalam tulisannya.
Menurut Dimas, gempa bumi hingga kini waktu terjadinya belum bisa diprediksi secara tepat. Dirinya pun mengungkapkan bahwa gempa bumi tidaklah membunuh, namun yang dapat mematikan ialah bangunan yang tidak tahan gempa sehingga meningkatkan keretakan seismik yang menjadikan bangunan tersebut hancur.
Dimas juga mengatakan bahwa masyarakat harus diberikan pemahaman mengenai gempa bumi dan tsunami melalui sosialisasi, komunikasi intensif, pelatihan, atau simulasi gempa, serta penguatan sistem peringatan dini.
“Belajar dari masifnya bencana alam gempa bumi dan tsunami Palu 2018, kita harus melakukan usaha-usaha dalam pengurangan risiko bencana gempa bumi dengan sistematis dan berkelanjutan. Indonesia harus menjadi negara yang tangguh dalam hidup berdampingan dengan potensi bencana alam,” tulis Dimas.
Rls/Yayan












