Dulohupa
Portal Berita Online Gorontalo

- Advertisement -

Mendengar Cerita Dua Anak Muda Yang Bangkit di Tengah Pandemi

Dulohupa.id- Matahari sore perlahan bergeser ke ufuk barat, mendekat ke peraduannya. Perlahan pula, geliat aktivitas di Pantai Pohon Cinta Marisa, Kabupaten Pohuwato, dimulai. termasuk Mahmud Yusuf (25), yang sore itu tampak semangat merapikan tempat jualannya.

Mahmud atau biasa disapa Kada, adalah salah satu penjual soft drink di wisata Pohon Cinta Marisa. Usianya memang masih muda, namun semangatnya berwirausaha tidak bisa diremehkan.

Mahmud sendiri sebetulnya sudah berjualan sejak tahun 2019. Namun kemudian berhenti karena harus menyelesaikan studinya di salah satu perguruan tinggi di Gorontalo. Jika dihitung kata dia,  berhenti jualan sekitar lima bulanan, dan rencananya akan memulai lagi awal tahun 2020.

Namun rupanya, niat untuk membuka usaha minuman itu harus ia kubur dalam-dalam, karena pandemi Corona virus diseasae 2019 (COVID-19) yang mewabah di Indonesia, yang imbasnya hingga ke Gorontalo.

Meski begitu, niat kuat itu tetap ia tanam dengan harapan, pandemi COVID-19 tidak akan lama. Sehingga, usaha minuman yang geluti itu akan berdenyut kembali menghasilkan rupiah.

 

“Saya buka usaha ini dari tahun 2019 kemarin, fokus jualan saya ke usaha minuman kekinian yang mulai digandrungi oleh banyak orang, termasuk di Pohuwato,” kata Mahmud kepada saya sembari melayani pesanan pembeli, Minggu (7/11).

“Saya sebenarnya pernah sekali buka, tapi karena memang kasus COVID-19 masuk di Gorontalo, pergerakan masyarakat mulai terbatas, dan saya enggan buka karena takut hal-hal negatif terjadi,” ungkap Mahmud melanjutkan.

Dan memang kata Mahmud, selama tutup dan tidak membuka usaha jualan selama pandmei, ia merasakan kesulitan ekonomi, baik dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan untuk menunjang kebutuhan kuliahnya.

Terhitung selama lima bulan di tahun 2019, ia menutup usahanya dan tiga bulan lamanya saat pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah mulai diterapkan di Gorontalo, termasuk di Pohuwato.

“Saat PSBB mulai diterapkan, saya memang sudah tak berharap lagi untuk membuka jualan di masa pandemi, dan tak berharap pemasukan ekonomi dari usaha yang saya rintis belum lama itu,” kata Mahmud dengan nada yang begitu pelan.

Langit mulia memerah, tapi Mahmud tak henti-hentinya melayani setiap pembeli yang datang ke tempat jualannya. “hampir di setiap akhir pekan saya harus melayani hampir 20-30 pembeli, dan itu bisa jadi bertambah terus, makanya saat membuka jualan mereka sudah berjejer mengantri,”

Mahmud kembali melanjutkan ceritanya, di tengah pesanan yang kian banyak dan matahari sore yang mulai sampai di peraduan.

Ia mengaku, baru bisa merasakan nafas yang lega ketika Pemerintah Provinsi Gorontalo tak lagi memperpanjang PSBB untuk ketiga kalinya. PSBB Gorontalo yang ke-2 sendiri berakhir pada tanggal 14 Agustus 2020, dan pada 1 Juni 2020 Gorontalo juga resmi memberlakukan sistem New Normal atau Kenormalan Baru sebagai upaya pemerintah untuk memulihkan denyut ekonomi skala nasional dan skala daerah.

Dengan kebijakan itu, Mahmud berucap syukur dan tak sabar menanti jualannya untuk dibuka kembali. Tapi, rasa kekhawatiran tetap saja menyelimuti Mahmud, ia masih ragu dengan keadaan pandemi yang belum sepenuhnya berakhir.

“Meksipun ruang gerak akan dibuka, tapi pasti akan banyak masyarakat tetap berdiam diri di rumah dan membatasi mobilitasnya di luar rumah,”

Tapi karena desakan pelanggan yang setia membeli jualannya, yang membikin Mahmud untuk segera membuka usahanya tersebut. “karena ada beberapa pelanggan yang memang rutin membeli jualan kami, alasan inilah untuk membuka kembali jualan,”

“Awalnya saya masih ragu membuka usaha ini, karena takut akan dilakukan PSBB kembali. Awal saya membuka itu hanya membaca situasi, bagaimana peluang usaha ini tetap bergerak meskipun masih pandemi, tapi ternyata keadaan memungkinkan untuk berjualan minuman kembali,” tutur Mahmud melanjutkan.

Dampak yang dikhawatirkan, lanjut Mahmud, malah akan merugi, karena berkaca pada banyak usaha kedai kopi atau restoran dan rumah makan yang gulung tikar saat pandemi menyerang.

“Cuman karena memang banyak permintaan untuk membuka kembali usaha jualan minuman ini, maka saya memberanikan diri untuk buka, dan alhamdulillah, keuntungan yang didapatkan lumayan banyak dari tahun kemarin,” terang Mahmud dengan sumringah.

Mahmud juga menuturkan, bahwa modal dari usaha minuman ini hanya mengandalkan modal kongkow-kongkow dengan pacarnya, yang mereka kelola dengan secara swadaya. Harga jual untuk segelas pun dikisaran 10 ribu rupiah sampai dengan 13 ribu rupiah.

Namun saat ini, ia sudah punya tiga gerai minuman tersebut, dan tersebar di beberapa titik di pusat Kota Marisa. Di tiga gerai tersebut, ia memperkerjakan lebih dari tiga orang karyawan di setiap outlet minumannya. Meskipun pandemi terus mewabah dan tak menemui titik akhir, Mahmud mampu bertahan dan berusaha bangkit dari krisis ekonomi yang diperkirakan terjadi selama Pandemi.

Kedai Kopi di Tengah Pandemi

Tidak terlalu berbeda dengan Mahmud, Nandar Moputi (24), seorang pekerja lepas yang ikut mengadu nasib dengan terjun ke dunia wirausaha.

Nandar (24) anak muda Pohuwato yang membuka kedai kopi di tengah Pandemi. Foto: Zulkifli Mangkau.

Dulohupa.id menemui Nandar saat ia sibuk menyeduh kopi di kedai yang baru dibukanya dalam dua bulan tersebut. Ia bercerita, bahwa pilihannya memulai usaha kedai kopi karena ia yang sebelumnya berprofesi sebagai pelatih pantomim di sebuah sekolah, harus mengalami pemutusan kontrak akibat pandemi COVID-19.

Memilih usaha kopi juga menjadi pilihannya, sebab sebelumnya ia memang sudah punya sedikit keahlian menjadi seorang barista. Perkenalan awalnya dengan kopi sudah dimulai sejak 2016 silam.

”Tahun awal mengenal kopi saya hanya home briwing saja, belum sampai ada niatan bekerja sebagai barista dan punya kedai kopi sendiri seperti sekarang ini,” kata Nandar kepada saya di kedai kopinya, Selasa (3/11).

Nanti pada tahun 2018, kata Nandar, ia memberanikan diri lebih giat belajar lagi soal kopi dan menjadi barista di beberapa kedai kopi di Pohuwato.

Namun setelah beberapa tahun bekerja sebagai Barista, Nandar mengungkapkan ingin punya kedai kopi secara pribadi seperti sekarang ini, “Memang pada awalnya, impian saya ingin punya kedai kopi secara pribadi, tidak bergantung bekerja sebagai barista di kedai orang lain.”

Dan impian Nandar itu barulah terwujud beberapa bulan terkakhir, saat pandemi COVID-19 terus mewabah. Dirinya meyakini, punya kedai sendiri lebih enak berbekal pengalaman menjadi barista yang ia geluti beberapa tahun terakhir ini.

“Dari bekerja sebagai barista juga saya mulai menyadari, punya kedai sendiri kayaknya enak,” katanya.

Niat untuk membuka kedai kopi akhirnya terus menguat setiap harinya, Nandar kemudian memberanikan diri untuk membuka kedai kopi, meski, banyak kedai-kedai kopi yang harus tutup karena pandemi dan aktivitas masyarakat yang terbatasi.

“Memang rasa takut, sih, ada, apalagi semua orang harus menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas yang banyak diluar rumah karena situasi pandemi yang belum kelar seperti sekarang ini.”

Saat awal kedai kopi-nya akan dibuka, kata Nandar, ia sadar  bahwa membuka kedai kopi harus punya pengalaman yang mumpuni soal kopi, dan segala permasalahan yang ada menyoal kopi dari hulu hingga hilir dan sampai terseduh ke cangkir kopi.

“Hal lainnya yang saya terus jaga itu, semangat untuk terus belajar, dan tentu selain semangat, modal juga adalah keharusan yang saya siapkan, maka dari itu saya bekerja sebagai freelancer dan menerima pekerjaan yang sesuai keahlian saya, untuk menopang kebutuhan ekonomi juga menabung buat modal buka kedai sendiri.”

“Alhamdulillah saat ini saya punya kedai sendiri, meskipun butuh waktu yang lama, dan nanti pada saat pandemi juga tercapai,” tutur Nandar dengan wajah ceria.

Menyoal untung dan rugi, Nandar mengakui saat awal membuka kedai memang pengunjung yang mampir ke kedai-nya tidak begitu banyak. Tapi seiring berjalannya waktu, orang-orang mulai mengetahui keberadaan kedai.  Untung yang didapatkan pun, kata Nandar bisa mencukupi kebutuhan ekonomi sehari-harinya.

“Kalau untuk masalah penghasilan dari usaha kedai, pendapatan yang dihasilkan alhamdulilah cukup untuk bertahan dan untuk membeli kebutuhan sehari-hari, meskipun keuntungannya tidak sebanyak yang pernah saya perkiraan waktu bekerja dulu; saat jadi barista,” ungkapnya.

Kepada Dulohupa.id, Nandar juga membeberkan soal harga jual kopi yang ia jual, ia memberi harga lebih rendah dari kedai yang lain, yang juga menjual minuman kopi serupa. Namun kata Nandar, harga yang sedikit rendah itu, juga tidak mengurangi kualitas dari pembuatan kopi yang ia sajikan kepada pelanggannya.

“Dalam segelas kopi yang saya jual di kedai, memang agak sedikit murah dari harga di kedai kopi yang lain, tapi bukan berarti saya mengurangi rasa kualitas kopi yang dihasilkan, tidak seperti itu.”

Kata Nandar, harga memang boleh di  bawah, tapi juga memperhatikan kualitas dari kopi yang diseduh tersebut. Jangan karena mengejar murah tapi soal kualitas tidak diperhatikan.

“Boleh menjual produk murah, tapi hasil dari seduhan atau kualitas dari seduhan kopi yang disajikan kepada pelanggan jangan murahan.”

Trik ini menurut Nandar ampuh menarik peminat kopi berdatangan ke kedai miliknya, “murah tapi harus menjaga kualitas, itu kunci saya menjalankan usaha kedai kopi ini,” tutupnya.

*Catatan: Bersama lawan virus corona. Dulohupa.id mengajak seluruh pembaca untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan. Ingat pesan, ibu, 3M (pakai Masker, rajin Mencuci tangan, dan selalu Menjaga jarak).
Reporter: Zulkifli Mangkau