Dulohupa.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dan memberantas anak tidak sekolah (ATS) di daerah setempat. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah melalui Dinas Pendidikan Kota Gorontalo yakni melakukan rapat koordinasi penanganan anak tidak sekolah bersama pihak sekolah, camat, lurah serta pihak-pihak terkait yang dilaksanakan di hotel Aston, Kamis (05/12/2024).
Penjabat Wali Kota Gorontalo, Ismail Madjid dalam sambutannya menyampaikan, pendidikan merupakan pilar Utama dalam membangun masyarakat yang sejahtera dan berdaya saing. Hal ini sejalan dengan amanat konstitusi, dimana Pendidikan adalah hak dasar setiap warga negara yang wajib dipenuhi.
“Namun demikian, harus menghadapi kenyataan bahwa tantangan dalam dunia Pendidikan masih cukup besar, khusnya terkait dengan keberadaan anak tidak sekolah,” kata Ismail.
Ia menekankan permasalahan ATS di Kota Gorontalo tidak hanya menjadi isu Pendidikan, tetapi juga merupakan tantangan sosial dan ekonomi yang memerlukan perhatian serius.
Berdasarkan data yang ada masih terdapat anak-anak yang belum menikmati haknya untuk memperoleh Pendidikan yang layak. Dinas Pendidikan Kota Gorontalo mencatat sejumlah 2.443 anak tidak sekolah di daerah setempat.
“Oleh karena itu, penanganan anak tidak sekolah harus menjadi prioritas Bersama yang meilbatkan semua elemen baik pemerintah, masyarakat maupun sektor swasta,” pintanya.
Sebagai bentuk tanggungjawab pemerintah Kota Gorontalo telah menyusun beberapa langkah startegis untuk mengatakasi masalah ATS, diantaranya:
1. Peningkatan pengelolaan data ATS
Pemerintah bekerjasama dengan dinas Kependudukan dan pencatatan Sipil untuk memastikan bahwa data mengenai ATS dapat diperoleh secara akurat dan berbasis wilayah, serta tepat sasaran.
2. Pengembangan Pendidikan non formal
Melalui program seperti kejar paket A, B dan C, anak-anak yang putus sekolah dapat melanjutkan pendidikannya dengan lebih fleksibel.
3. Peningkatan Akses Pendidikan formal
Dengan menyediakan sarana prasarana yang representative serta dukungan biaya personal berupa beasiswa bagi peserta didik yang berasal dari keluarga kurang mampu, kami berupaya mengurangi hambatan akses Pendidikan.
4. Kolaborasi dengan masyarakat
Melalui rapat koordinasi ini diharapkan dapat menyatukan visi, misi dan komitmen untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan ATS di Kota Gorontalo.
Ismail mengajak semua pihak bisa mengintegrasikan program kerja dengan saling bersinergi, memastikan keberlanjutan kebijakan, karena jangan sampai hasil rapat ini hanya menjadi dokumen tanpa implementasi nyata.
“Kemudian saya mengajak membangun kesadaran bersama dengan rasa tanggungjawab yang bisa memberikan masa depan kepada anak-anak,” tegasnya
Selanjutnya melibatkan perangkat kelurahan, tokoh masyarakat dan organisasi social untuk bersama-sama mengidentifikasi dan mendampingi anak-anak yang berisiko putus sekolah.
Permasalahan ini tentu tidak bisa diabaikan begitu saja. Anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan akan menghadapi masa depan yang lebih sulit pada akhirnya dapat memperburuk kualitas pembangunan daerah.
“Terima kasih kepada seluruh panitia penyelenggara, narasumber dan peserta yang meluangkan Waktu dan tenaganya untuk berkontribusi dalam kegiatan ini,” pungkasnya.
Reporter: Enda












