Scroll Untuk Lanjut Membaca
HIBURAN

Kisah Dokter Non-Muslim di Gorontalo yang Menginisiasi Pembangunan Musala

×

Kisah Dokter Non-Muslim di Gorontalo yang Menginisiasi Pembangunan Musala

Sebarkan artikel ini
Anwar Pasaribu, doktern non-muslim yang sukses menginsiasi pembangunan musalah di Puskesmas Kota Barat, Kota Gorontalo/istimewa

Dulohupa.id-  Sikap toleransi antar umat beragama memang semestinya dijunjung tinggi. Seperti yang ditunjukan oleh seorang dokter non-muslim di Gorontalo misalnya. Dokter umum yang merupakan Kepala Puskesmas Kota Barat, Kota Gorontalo tersebut berhasil menginisiasi rumah ibadah untuk umat muslim. Kisahnya pun viral ketika seorang tokoh Gorontalo mempublikasikannya di media sosial facebook.

“Walaupun beliau seorang NASRANI… Setiap Ramadhan tiba, beliau pasti akan menyempatkan Untuk mengajak teman²nya untuk Buka Puasa dan Sahur Bersama. Alhamdulillah beliau barusan menyelesaikan pembangunan Mushalla di Puskes t4 dia berdinas, dan oleh teman² kantornya sepakat untuk menamakan Mushalla itu AL ANWAR,” seperti dikutip dari postingan di facebook Ramli Anwar, Sabtu (13/3).

Dokter tersebut adalah Anwar Pasaribu. Kepada dulohupa.id ia menceritakan bahwa rencana pembangunan musala itu muncul pada medio 2020, saat ia resmi menjabat sebagai Kepala Puskesmas Kota Barat, Kota Gorontalo. Ia mengusulkan dalam rapat rutin per triwulan, untuk membangun musala. Bukan tanpa alasan, ia mengaku bahwa musala jadi salah satu kebutuhan para tenaga kesehatan (nakes) di puskesmas tersebut.

Apalagi kata Anwar, “Waktu puskesmas lama itu kan biasanya ada tamu, teman-teman (nakes) itu kan biasanya mereka salat di situ (di ruang kepala puskes). Kalau lagi ada waktu salat biasanya mereka pakai di situ (ruang kepala puskes). Cuma karena saya jadi kepala puskesmas, mungkin teman-teman agak sungkan. Begitu perasaan saya,” ungkap Anwar.

“Jadi saya berinisiatif mengajukan sama teman-teman. Di puskes itu ada lokakarya bulanan. Tiap tiga bulan itu ada rapat (membahas) masalah-masalah semua di puskesmas. Saya usulkan itu bagaimana kalau kita bikin musala begitu,” tambah Anwar.

Dalam rapat tersebut katanya, para nakes hanya mengusulkan untuk membuat musala sederhana. Tidak perlu besar, cukup dengan membagi sebuah ruangan dengan penyekat. Namun,”Saya bilang ke mereka, kalau rumah ibadah jangan sekat-sekat. Kalau mau, torang bangun (bangunan permanen) begitu. Kebetulan kan di situ ada tanah kosong,” ungkap Anwar.

Tetapi persoalannya adalah, dari mana dana untuk membangun musala permanen. Sebab, pemerintah sendiri memang tidak mengalokasikan dana khusus kepada puskesmas, untuk pembangunan tempat ibadah. Tak mau para nakes putus asa, Anwar pun mematahkan keraguan para nakes dengan tekadnya. Ia lantas menceritakan, bahwa membangun tempat ibadah memang bukanlah hal pertama untuk dirinya.

Katanya, ia bersama komunitasnya pernah membangun sebuah masjid di wilayah Kabila, Bone Bolango, “Dan itu jadi. Saya bilang pengalaman saya kalau begitu, kalau mo tanya dana, tidak mo cukup kan. Yang penting komitmen. Saya backup masalah pendanaan. Nah teman-teman setuju, oke. Yang penting maksudnya, setuju waktu itu bikin dulu. Gampang itu masalah dana. Nanti kita bisa cari sama-sama,” ungkap Anwar meyakinkan para nakesya.

Setelah rapat tersebut, kemudian dengan tenaga seadanya, mereka kata Anwar, mulai mencari referensi bangunan masjid berukuran 10 meter persegi di internet. Kemudian, mulai memposting kegiatan untuk rencana pembangunan itu di internet. Tak disangka, ternyata banyak yang menawarkan bantuan.

“Teman-teman yang di sosmed (sosial media) banyak yang sumbang. Ada banyak, lumayan lah yang sumbang. Jadi semuanya juga yang honor juga di situ (di puskes) nyumbang. Yang sopir-sopir, tenaga lainnya. Pokoknya all out lah semua (patungan membantu dalam hal pendanaan). Dan tidak terduga-duga sih mereka sumbang,” ungkap Anwar.

Akhirnya, dengan semua bantuan itu, terkumpulah dana sebanyak Rp 43 juta, dan kemudian dipakai untuk membangun musala dengan ukuran lima kali lima meter tersebut. Waktu pengerjaannya pun kata Anwar, hanya menghabiskan waktu 50 hari.

Meski begitu, dengan dana tersebut, sebetulnya tidaklah cukup. Sebab, setelah selesai pengerjaan, ternyata panitia pembangunan masjid kehabisan dana, sementara musala belum selesai di-cat.

“Waktu itu, sudah mau cat. Sudah tidak ada uang. Jadi kami yang cat semua itu. Kami cat semua, mulai dari dinding dan plafon. Saya juga yang ngecat. Jadi sore kita abis pulang, kita ngecat itu (musala),” ungkap Anwar menceritakan jerih payah mereka membangun musala.

Dengan kerja keras itu, akhirnya musala selesai pada 22 Agustus 2020. Setelah diresmikan, ternyata mulai banyak yang memakainya untuk salat. Anwar pun mengungkapkan, senang ketika melihat para nakes mulai menggunakan musala itu, dan ramai-ramai menggunakannya.

“Musala ini membantu sekali. Setiap waktu salat itu, sebelah ruangan saya kan,  saya senang juga mereka sama-sama salat. Saya senang melihat mereka (ramai-ramai salat di musala itu),” ungkap Anwar.

Saat ini pun, musala yang kemudian disepakati oleh para nakes untuk diberi nama Al-Anwar itu, sudah memiliki susunan pengurus takmir. Ke depan kata Anwar, ia sudah merencanakan untuk membuat kotak amal di masjid.

“Rencananya kita lagi mau bikin sumbangan untuk ini, kan kebetulan speaker atau sound system belum ada. Minggu lalu kita baru bahas. Bagaimana kalau kita bikin kotak amal,” ungkapnya.

Tidak hanya untuk nakes, Anwar pun mempersilahkan jika ada masyarakat yang mau menggunakan musala tersebut, terlebih memasuki bulan Ramadhan. Ia bahkan menginginkan, musala itu dipakai untuk salat saat ramadhan. Sebab, posisi Puskesmas Kota Barat, Kota Gorontalo sendiri berada persis di tengah pemukiman padat penduduk, sementara masjid di wilayah itu cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki.

“Pokoknya musala dibuka untuk umum. Kalau ada masyarakat  yang pakai, syukur sekali. Kebetulan di situ ada orang tinggal. Ada rumah bidan, ada rumah perawat, ada juga cleaning service, jadi setiap saat bisa dipakai (musala itu),” ungkap Anwar.

Ia pun mengungkapkan, bahwa suksesnya pembangunan musala itu berkat kerja keras dan bantuan semua pihak. “Saya bangga dengan teman-teman staf puskesmas dan teman-teman saya di luar puskesmas yg rela berdonasi. Karena waktu itu masih takut-takutnya dan heboh-hebohnya COVID-19, tapi teman-teman bersedia dan mau berbagi untuk membangun rumah ibadah,” tutup Anwar.

Reporter: Wawan Akuba