Untuk Indonesia

Jam Malam di Kabupaten Gorontalo, Pedagang: Kasihan Keluarga Kami, Mo Makan Batu?

Dulohupa.id- Penerapan jam malam di Kabupaten Gorontalo bikin pedagang menjerit. Terlebih pedagang yang berjualan di kawasan Pakaya Tower Limboto. Menurut sejumlah pedagang kepada dulohupa.id, bahwa penerapan kembali jam malam mengabaikan kebutuhan mereka.

“Torang ini saja (Kami para pedagang) susah sekali mencari biar tidak ada pembatasan jam malam. Apalagi sudah ada pembatasan jam malam seperti ini, lebih susah lagi kami mencari rejeki,” ungkap Zulkifli Ento  salah satu pedagang asal kelurahan Hutuo, Kamis (11/2).

Menurut Iki, pemerintah setempat mestinya mencari solusi lain dalam mencegah penularan COVID-19. Kata dia, pembatasan jam malam ini justru mencekik rakyat.

“Jujur kami ini hanya dapat rezeki hanya dari sini, kenapa lagi dibatasi seperti ini,” tambahannya.

Baca Juga:  Diduga Korsleting, Dua Rumah di Kelurahan Ipilo Hangus Terbakar

Sementara Yulin, seorang pedagang asal Kelurahan Kayubulan mengungkapkan, bahwa secara pribadi ia tahu kebijakan itu untuk kebaikan bersama, karena mencegah penularan COVID-19. Namun menurutnya, pemerintah pun harus membuat kebijakan untuk membantu perekonomian rakyat.

“Kalau saya siap terima dengan apa yang sudah ada di maklumat bupati tersebut. Tapi harusnya ada kebijakan yang mendukung kita para pedagang. Kasihan anak-anak kita yang ada di rumah, mo makan batu?,” tutupnya.

Sebelumnya, dalam upaya pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) di wilayah Kabupaten Gorontalo, Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo mengeluarkan maklumat pembatasan kembali aktivitas malam di kabupaten tersebut.

Maklumat bupati nomor  360/BPBD/051/2021 tentang Pembatasan Kegiatan Masyarakat untuk Pengendalian Penyebaran COVID-19 di Kabupaten Gorontalo itu menyebutkan pada pasal satu poin C, pembatasan kegiatan masyarakat di luar rumah mulai jam 21:00 WITA sampai dengan jam 04:00 WITA. Adapun maklumat ini berlaku sejak Rabu, 10 Februari 2021.

Reporter: Fandiyanto Pou

Comments are closed.