Scroll Untuk Lanjut Membaca
banner
GORONTALOUNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

Bahasa Isyarat jadi Media Ekspresi Seni di Jurusan Sendratasik UNG

×

Bahasa Isyarat jadi Media Ekspresi Seni di Jurusan Sendratasik UNG

Sebarkan artikel ini
Bahasa Isyarat
Foto bersama dalam kegiatan Bahasa Isyarat sebagai Media Ekspresi Visual dalam Seni Pertunjukan di Jurusan Sendratasik UNG.

Dulohupa.id – Upaya membangun budaya kampus yang inklusif terus dilakukan oleh Jurusan Sendratasik Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Melalui kolaborasi dengan Yayasan Tunarungu Hellen Wimberty, kegiatan bertajuk “Bahasa Isyarat sebagai Media Ekspresi Visual dalam Seni Pertunjukan” digelar di Laboratorium Tari, Kampus 1 UNG, pada Sabtu (9/11) kemarin.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Membangun Budaya Inklusif Disabilitas Rungu/Tuli” yang melibatkan mahasiswa Jurusan Sendratasik. Narasumber utama kegiatan tersebut adalah Delfira Suci Amalia Sahi, mahasiswa penyandang disabilitas rungu dari semester tiga, yang didampingi oleh juru bahasa isyarat (JBI) Dengar, Ainun Utina.

Dalam pemaparannya, Delfira menyampaikan bahwa memperkenalkan bahasa isyarat kepada rekan-rekan mahasiswa membuatnya lebih mudah berinteraksi di lingkungan kampus. “Sekarang sudah banyak teman-teman yang bisa berkomunikasi dengan saya lewat bahasa isyarat. Saya juga ingin terus mengenalkan bahasa ini, salah satunya lewat pertemuan santai di Kopi Tuli,” ujarnya.

Ketua Yayasan Tunarungu Hellen Wimberty, Ellen Podungge, SE., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari sosialisasi serupa yang sebelumnya telah dilaksanakan di sejumlah SMA di Kota Gorontalo, bertepatan dengan peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional pada 23 September lalu.

Menurutnya, memperkenalkan bahasa isyarat di lingkungan kampus dapat memperluas cara berkomunikasi antarindividu, tidak hanya melalui kata, tetapi juga lewat gerak, ekspresi, dan perasaan. “Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling menghargai antar mahasiswa,” ungkap Ellen.

Sementara itu, Ketua Jurusan Sendratasik, Dr. La Ode Karlan, S.Pd., M.Pd., memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai, hadirnya mahasiswa dengan disabilitas rungu memberikan warna baru dalam proses pembelajaran seni di jurusan tersebut.

“Kemampuan berbahasa isyarat dapat membuka peluang baru dalam seni pertunjukan. Mahasiswa bisa mengeksplorasi bentuk-bentuk ekspresi artistik yang lebih luas dengan menggabungkan unsur visual, gerak, dan ekspresi tubuh,” tuturnya.

Dr. La Ode berharap kegiatan seperti ini terus dikembangkan agar Jurusan Sendratasik tidak hanya dikenal kreatif, tetapi juga menjadi ruang yang ramah dan inklusif bagi semua mahasiswa.