Scroll Untuk Lanjut Membaca
GORONTALOHEADLINE

Imbas Antrean BBM Berjam-jam, Ojol Gorontalo: Waktu Kerja Berkurang, Penghasilan Turun

×

Imbas Antrean BBM Berjam-jam, Ojol Gorontalo: Waktu Kerja Berkurang, Penghasilan Turun

Sebarkan artikel ini
Antrean BBM Gorontalo
Situasi antrean BBM di salah satu SPBU Kota Gorontalo. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Antrean kendaraan yang mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Gorontalo menjadi sorotan warga sejak beberapa hari terakhir. Tidak sedikit pengendara yang harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan BBM.

Salah satu yang terdampak paling nyata adalah para pengemudi ojek online (ojol). Waktu yang seharusnya digunakan untuk mencari orderan justru habis terbuang dalam antrean.

“Menurut saya, sangat memprihatinkan sekali. Terutama untuk kami ojol, untuk om bentor, ya kan. Apalagi kan sekarang ini, lagi musim kemarau juga kan,” ujar salah satu ojol, Anggi Usuli kepada awak media pada Kamis sore (17/9/2026).

“Menurut saya terkendala, dari sisi pendapatan juga (berdampak),” lanjutnya.

Menurutnya, antrean yang panjang membuat mereka kehilangan jam kerja yang produktif.

“Berdampak di waktu. Kalau saya turun narik jam setengah tujuh, pas diisi pom bensi itu jam-jam setengah delapan. Jadi, mengingat waktu juga, kan. Waktu gacor-gacornya ini, jam-jam setengah delapan, kami kejar trip, kan. Jadi, disitu tamakan waktu,” jelas Anggi.

“Kalau saya ngantri itu 30 menit atau 45 menit lah. Dan ini rata-rata di SPBU ada antrean. Tapi ya mau bagaimana lagi, jadi ya harus dijalani, mau tidak mau harus isi,” lanjutnya.

Kata Anggi, dirinya tetap memilih untuk mengisi bahan bakar kendaraannya di SPBU ketimbang di depot, mengingat perbedaan harga tersebut.

“Kalau untuk saya pribadi, lebih memilih SPBU, karena di situ kan untuk harga ada perbedaan dengan di depot-depot, terbilang agak mahal sedikit,” kata Anggi.

Sementara itu, hal yang senada juga diungkapkan Suprin Pakaya (ojol). Menurutnya, ia tetap memilih untuk mengisi BBM di SPBU karena sejumlah alasan.

“Kalau depot yang pakai mesin, kan kita tidak bisa tahu juga ukurannya, itu kan ukur bagaimana,” ungkap Suprin.

Lebih lanjut, selain tetap memilih untuk mengisi di SPBU, ia juga tetap memilih BBM jenis Pertalite meski harus dikejar waktu narik. Karena jika memilih jenis BBM lain, harus diperhadapkan dengan harga yang cukup jauh dari Pertalite.

“(kenapa tidak isi Pertamax?) Kalau Pertamax kan harganya jauh. Pertamax kan Rp16.000, Pertalite Rp10.000, berbedaannya sudah jauh,” tandasnya.

“Jadi standar orderan kami kan Rp8000, Kalau mau perbandingkan dengan dengan harga Pertamax Rp.16.000, itu sudah 100 persen perbandingannya, kalah banyak,” lanjut Suprin.

Meski harus mengantre dengan waktu yang tak sedikit, ditambah cuaca terik saat antrean, para ojol mau tak mau tetap sabar menjalani itu.

“Jadi (antrean) ini berdampak di pendapatan kami,” pungkasnya.

Reporter: Yayan