Scroll Untuk Lanjut Membaca
BUDAYAGORONTALOPENAS Gorontalo

Dinas Arpus Perkenalkan Adat dan Budaya Gorontalo ke Peserta PENAS XVII asal Bengkulu

×

Dinas Arpus Perkenalkan Adat dan Budaya Gorontalo ke Peserta PENAS XVII asal Bengkulu

Sebarkan artikel ini
Peserta PENAS Gorontalo
Peserta PENAS XVII asal Bengkulu didampingi LO saat berkunjung ke makam Raja Ilato Jupanggola.

Dulohupa.id – Menjelang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII yang diselenggarakan di Limboto, Kabupaten Gorontalo, sejumlah peserta PENAS asal Bengkulu memanfaatkan untuk mengunjungi tempat bersejarah di Provinsi Gorontalo, Kamis (18/6/2026). Mereka peserta didampingi oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Provinsi Gorontalo sebagai Liaison Officer (LO).

Para peserta PENAS juga mengunjungi Museum Purbakala Provinsi Gorontalo untuk menelusuri adat dan budaya Gorontalo sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat Gorontalo.

Feri Hulukati selaku Pustakawan Ahli Muda sekaligus LO menyampaikan bahwa para peserta ingin mencari tahu Provinsi Gorontalo yang dikenal dengan julukan Kota Serambi Madinah. Gorontalo diketahui punya sejarah panjang sebagai salah satu pusat kota perdagangan, pendidikan, dan pusat pengembangan kebudayaan Islam di Indonesia Timur.

“Gorontalo dikenal falsafahnya Adat bersendikan Syara, Syara bersendikan Kitabullah, dimana adat Gorontalo berdasarkan pada syariat Islam dan syariat berdasarkan pada Kitabullah yang merujuk pada Al-Qur’an dan tradisi Nabi,” ujar Feri kepada Dulohupa.id.

PENAS
Peserta PENAS XVII asal Bengkulu saat mengunjungi Museum Purbakala Provinsi Gorontalo.

Sejak masa pemerintahan Kerajaan Gorontalo, syariat Islam telah menjadi dasar hukum dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam bidang pemerintahan, kemasyarakatan, maupun pengadilan. Adat istiadat Gorontalo menyatu dengan unsur-unsur agama Islam, sehingga seluruh rangkaian kegiatan atau upacara adat bernafaskan nilai-nilai keislaman. Upacara kebesaran mencakup prosesi perkawinan, penyambutan tamu kehormatan, penobatan, dan upacara kematian.

“Adat dan budaya ini tidak hanya menjadi momen penting dalam kehidupan spiritual masyarakat, tetapi juga menjadi ajang untuk memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan,” papar Feri.

Ia juga menuturkan bahwa para peserta PENAS juga sempat mengunjungi Masjid Hunto di Kelurahan Biawu, Kota Gorontalo. Masjid Hunto dikenal sebagai masjid pertama di Gorontalo yang dibangun oleh Sultan Amai sebagai mahar pernikahannya kepada Putri Raja di Sualwesi Tengah bernama Boki Autango.

“Peserta juga mengunjungi Makam Raja Ilato Ju Panggola dan Benteng Otanaha di Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo,” ungkap Feri.

PENAS Gorontalo
Peserta PENAS XVII asal Bengkulu saat mengunjungi Cagar Budaya Benteng Otanaha.

Sementara Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo, Ridwan Hemeto menyampaikan, sesuai petunjuk Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie menyampaikan bahwa agar LO terus mendampingi peserta dan mengambil langkah cepat terhadap kebutuhan yang muncul menjelang pelaksanaan kegiatan hingga kegiatan selesai. Gubernur Gusnar juga meminta agar setiap LO dapat memperkenalkan potensi Pertanian, perikanan, Pariwisata dan budaya di Gorontalo.

Gubernur Gusnar sebelumnya mengatakan keberhasilan Gorontalo sebagai tuan rumah tidak hanya ditentukan oleh kelancaran agenda utama, tetapi juga oleh kualitas pelayanan yang diberikan kepada seluruh peserta. Karena itu, setiap LO diminta memahami secara detail kondisi kontingen yang menjadi tanggung jawabnya, mulai dari kedatangan, akomodasi, hingga kepulangan peserta.

Reporter: Enda