Dulohupa.id – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Gorontalo Sofian Ibrahim menilai daerah yang rendah emisi bisa menjadi peluang investasi. Hal itu disampaikannya saat membuka Workshop Strategi Pengurangan Emisi yang digelar di Fox Hotel, Senin (22/12/2025).
Workshop ini dilaksanakan oleh Kelompok kerja (Pokja) Results-Based Payment (RBP) REDD+ Green Climate Fund Output 2 Provinsi Gorontalo melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) serta Wahana Mitra Mandiri. Adapun Peserta workshop terdiri dari organisasi perangkat daerah lintas provinsi, organisasi perangkat daerah lintas kabupaten/kota, UPT Balai Kementerian Kehutanan, serta unsur Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Gorontalo.
Sofian menyampaikan bahwa daerah rendah emisi jadi syarat investor yang masuk karena adanya keberlanjutan lingkungan dan ekonomi hijau. Namun Investasi di daerah harus didorong oleh berbagai insentif pemerintah, permintaan pasar akan solusi ramah lingkungan, dan potensi keuntungan jangka panjang.
Dirinya menginginkan Gorontalo dapat mengurangi emisi dari aspek pembangunan berbasis lingkungan atau berkelanjutan agar bisa menarik investor.
“Jadi kalau investor masuk, kita beri catatan kalau Gorontalo ini berbasis lingkungan. Meskipun Investor ini menjalankan seusai SOPnya tetapi kualitas lingkungannya harus dijaga mulai dari air, udara dan seterusnya,” papar Sopian.

Di tengah tren pasar global yang menuntut produk dan jasa berjejak karbon rendah, industri Indonesia perlu bertransformasi menuju industri hijau dan rendah karbon agar tetap berdaya saing di pasar internasional dan domestik.
Olehnya Sofian menekankan bahwa peran pemerintah pusat dan daerah sangat penting dalam mengarahkan dan mendorong transformasi industri hijau melalui kebijakan, regulasi, serta pemberian insentif. Dengan demikian, investor dari sektor industri pun terpacu melakukan upaya-upaya penurunan emisi gas rumah kaca dan limbah serta pemanfaatan material secara efisien.
“Kita Pemerintah juga perlu memperkuat kolaborasi antara industri, lembaga keuangan, masyarakat, konsumen, agar dapat berjalan lebih efektif,” kata Sofian.
“Secara teorinya, Bapak-Ibu, kenapa yang kita bahas hari ini, workshop strategi pengurangan Emisi ini penting sekali kita lakukan, hasil yang tadi kita bahas itu akan menyelamatkan segi terutama kita di Provinsi Gorontalo dari perubahan iklim dengan cara mengurangi emisi,” tambahnya.
Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka menambahkan, workshop ini menyangkut perubahan iklim, terutama di dalam hal menekan angka emisi untuk Provinsi Gorontalo.
Dirinya mengajak komponen OPD dapat melakukan konsolidasi dan menyatukan persepsi agar memahami emisi gas rumah kaca itu.
“Misalnya pengurangan emisi bisa dari di sektor pertanian, apa nantinya yang harus dilakukan oleh teman-teman sektor pertanian. Begitu pula halnya dengan perhubungan, apa yang dilakukan oleh teman-teman,’ ujar Fayzal.
Fayzal mengatakan dalam membahas strategi pengurangan emisi, perlu mengidentifikasi masalah tentang perubahan iklim. Sehingga perlu adanya pelatihan, pembekalan atau koordinasi antar semua, termasuk masayarakat.
“Intinya kita harus satu pemikiran dulu. Satu pemikiran dan satu gerakan di dalam rangka mengantisipasi perubahan itu. Khususnya tentang emisi gas rumah kaca yang saat ini masih tinggi di Gorontalo,” paparnya.
Diketahui emisi merupakan pelepasan zat terutama gas (CO2, CH₄, dan N2O) ke atmosfer. Emisi bersumber dari berbagai aspek seperti Energi (Pembakaran batu bara, minyak, dan gas untuk pembangkit listrik dan pemanas), Transportasi (Gas buang dari mobil, truk, pesawat, dan kapal), Industri (proses produksi pabrik semen, bahan kimia, pertanian (penggunaan pupuk nitrogen, ternak (metana), dan pengelolaan limbah, Rumah Tangga (pembakaran kayu bakar, penggunaan listrik yang sebagian besar dari fosil, serta Kehutanan & Lahan (Alih fungsi lahan, deforestasi, dan kebakaran hutan).
Reporter: Enda











