Dulohupa.id – Pilkada serentak tahun 2024 kian mendekati puncaknya. Sejumlah 545 daerah dengan rincian 37 provinsi, 415 kabupaten, dan 93 kota, akan melangsungkan pemungutan suara dengan serentaknya pada 27 November mendatang.
Waktu yang kian dekat ini, para lembaga penyelenggara terus berupaya untuk meningkatkan serta mengoptimalkan peran dan partisipasi masyarakat dalam memilih kepala daerahnya.
Namun dilain sisi, tajuk golput (golongan putih) menjadi isu yang tak dapat dipisahkan dalam hal penyelenggaraan pemilihan di Indonesia.
Menyoal hal tersebut, Presiden Mahasiswa Universitas Gorontalo (UG), Harun Alulu mengemukakan pendapatnya tentang trand golput milenial yang bisa saja pada Pilkada di Gorontalo tahun 2024 akan tinggi nantinya.
Bukan tanpa dasar, Harun pesimis akan terselenggaranya pesta demokrasi lima tahunan yang baik (perihal golput), sebab didasari pada Pileg 2024 sebelumnya, dimana Gorontalo (sebagian wilayah) menjadi salah satu daerah di Indonesia yang melangsungkan kembali Pemungutan Suara Ulang (PSU).
“Ini berangkat dari keresahan, dimana kemarin di Pemilu 2024, adanya PSU. Nah, trand yang terjadi adalah golput yang terlalu tinggi setelah PSU itu,” ujar Harun kepada Dulohupa pada Senin (14/10/2024).
Kata Harun, dirinya melihat terdapat dua tren di Gorontalo saat ini, yaitu terkait penyelenggaraan pemilu yang terlihat tidak becus kerjanya dan genarasi milenial untuk golput yang tinggi.
“Dan golputnya bukan golput apatis, namun lebih ke golput ideologis,” pungkasnya.
Dirinya menjelaskan bahwa pandangan tersebut didapatkannya dari kalangan akar rambut, melalui informasi mahasiswa-mahasiswi yang sedang turun dalam program kuliah lapangan (KKN).
“Disana (lokasi pengabdian mahasiswa) ada narasi yang berkembang di masyarakat bawah, bahwa para kontestan di Pilkada (Pilgub maupun Pilbub) itu terkesannya orang-orangnya sama,” ungkap Harun.
“Artinya, ada sesuatu ketokohan atau track record yang mereka sudah tahu 5 sampai 10 tahun kebelakang. Dan itu menimbulkan sesuatu gerakan apatis atau gerakan golput ideologis berdasarkan dengan pengetahuan masyarakat, bahwa mereka ini yang beberapa orang tersandera kasus korupsi,” lanjutnya.
Menurut Harun, dirinya mendeskripsikan bahwa meski calon tersebut baik namun memilih pasangan yang kurang baik (terjerat kasus), hal tersebut dapat menganggu psikologis masyarakat.
“Bahwa siapapun yang akan terpilih nanti, mereka sama saja, mereka orang-orang korup yang hari ini lagi berkontestasi di Pilkada, itu yang menjadi trand untuk golput ideologis di kalangan bawah,” jelas Harun.
Sehingga dirinya berharap agar hal tersebut menjadi salah satu atensi bagi lembaga penyelenggara pemilu/pemilukada pun masyarakat. Sehingga harapan Pilkada serentak yang bermartabat untuk wujudkan cita-cita demokrasi dengan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dapat terlaksana.
Reporter: Yayan












