Dulohupa.id – Upaya pelestarian bahasa daerah Gorontalo mendapat perhatian serius melalui program revitalisasi bahasa yang digagas para finalis Duta Bahasa Provinsi Gorontalo tahun 2024. Program ini bertujuan untuk melestarikan bahasa daerah yang mulai terlupakan oleh generasi muda, terutama para peserta didik di Gorontalo.
Data dari Badan Bahasa menunjukkan beberapa bahasa daerah di Indonesia, termasuk Gorontalo, sudah mulai terancam punah, bahkan ada yang telah dikategorikan punah.
Salah satu program kerja yang diinisiasi oleh kelompok 2 finalis duta bahasa provinsi Gorontalo tahun 2024 adalah menciptakan Microsite Monurasi bahasa Gorontalo.
Bagas Dwi Nurcahyo, selaku ketua tim mengatakan monurasi bertujuan untuk memudahkan pembelajaran bahasa daerah melalui platform digital.
“Karena proses penilaian hanya berlangsung selama 3 minggu, kami memutuskan untuk mengambil sampel terlebih dahulu dengan melibatkan tiga sekolah di Kota Gorontalo sebagai percobaan” Ujar Bagas saat diwawancarai, Rabu (29/05/2024)
“Sekolah-sekolah yang telah kami datangi yaitu SMA Negeri 2 Gorontalo, SMK 1 Gorontalo, dan SMAN 4 Gorontalo” lanjutnya.
Kata Bagas, sasaran utama program ini adalah siswa-siswa SMA, khususnya anggota pramuka yang tergabung dalam Satuan Karya Widya Budaya Bakti.
“Di dalam satuan karya ini, terdapat krida atau kecakapan yang harus diambil oleh para anggota, salah satunya adalah krida nilai budaya. Melalui Monurasi, diharapkan dapat membantu mempermudah anggota pramuka dalam pengambilan krida tersebut, yang meliputi pembelajaran tradisi dan bahasa daerah mereka” jelas Bagas.
Lebih lanjut, Bagas mengatakan saat ini monurasi masih beroperasi melalui sistem microsite. Kedepannya kami berharap monurasi dapat berkembang menjadi aplikasi. Munurasi bahasa Gorontalo bisa diakses di link https://s.id/monurasi
“Program Monurasi ini diharapkan dapat meluas ke lebih banyak sekolah di Gorontalo dan menjadi bahan ajar yang berguna untuk melestarikan bahasa daerah, sehingga tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda di masa depan” harapnya.
“Namun, pengembangan ini tentu membutuhkan waktu panjang dan harus dibahas bersama, terutama terkait konten bahasa daerah yang harus benar-benar dari pakar dan tidak boleh sembarangan” pungkas Bagas.
Reporter: Indah












