Scroll Untuk Lanjut Membaca
BUDAYANASIONAL

Sejarah dan Tujuan Perayaan Waisak, Hari Trisuci Agama Buddha

×

Sejarah dan Tujuan Perayaan Waisak, Hari Trisuci Agama Buddha

Sebarkan artikel ini
Hari Raya Waisak Budha
(Foto: Wikipedia)

Dulohupa.Id – Hari Raya Waisak atau biasa disebut dengan Trisuci Waisak merupakan hari besar agama Buddha. Kata Waisak berasal dari bahasa Sansekerta Vesakha yang merupakan nama bulan dalam kalender Buddhist.

Trisuci Waisak biasanya bisa jatuh pada bulan April, Mei, dan Juni kalender Masehi. Tanggal Waisak yang berubah setiap tahun disebabkan karena perayaan ini terjadi saat bulan purnama pertama, bulan lunar kuno Waisak yang biasanya jatuh pada Mei atau awal Juni. Tahun ini hari raya Waisak jatuh pada tanggal 16 Mei 2022.

Sesuai dengan namanya, Trisuci Waisak memperingati 3 peristiwa penting, yaitu:

1. Lahirnya Pangeran Sidharta. Pangeran Sidharta lahir sebagai seorang Boddhisatva (calon Buddha dan seseorang yang akan mencapai kebahagiaan tertinggi).

2. Pencapaian Penerangan Sempurna. Di usia 29 tahun, Pangeran Sidharta meninggalkan istana untuk bertapa menjadi Buddha serta mencari kebebasan dari usia tua, sakit, dan mati.

3. Pencapaian Parinibbana. Peristiwa ini merupakan wafatnya sang Buddha di usia 80 tahun. Untuk merayakan hari Waisak ini, umat Buddha pergi ke vihara dan melakukan ritual puja-bhakti. Ritual ini bertujuan untuk mengingat kembali ajaran sang Buddha dan melaksanakannya dengan baik.

Tiga peristiwa ini dinamakan “Trisuci Waisak”. Keputusan merayakan Trisuci ini dinyatakan dalam Konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists – WFB) yang pertama di Sri Lanka pada tahun 1950. Perayaan ini dilakukan pada purnama pertama pada bulan Mei.

Waisak sendiri adalah nama salah satu bulan dalam penanggalan India Kuno. Dalam tradisi Buddhis Mahayana, hari waisak berasal dari bahasa Sanskerta, वैशाख (Vaiśākha), dan berasal dari variannya. Vesākha dikenal dengan nama Vesak atau Wesak (衛塞節) dalam bahasa Sinhala.

Waisak dirayakan di berbagai negara seperti Nepal, India, Korea Selatan, Thailand, Sri Lanka, Singapur, Malaysia, hingga Indonesia. Setiap Buddist, panggilan untuk umat Buddha, memiliki cara perayaannya tersendiri. Biasanya di hari tersebut, umat Buddha pergi ke kuil setempat atau bahkan tinggal di sana sepanjang hari selama bulan purnama.

Tak hanya pergi ke kuil, perayaan Waisak juga diisi dengan melakukan perbuatan baik, berpartisipasi dalam nyanyian dan meditasi, refleksi terhadap ajaran agama, membawa persembahan ke kuil, serta berbagi makanan dengan orang lain.

Mendekorasi rumah, memasang lentera, berpartisipasi dalam prosesi dan menggunakan pakaian putih khusus, menandai perayaan tersebut. Dimungkinkan pula saling bertukar kartu ucapan kepada para kerabat dan keluarga.

Selain itu, ada satu upacara bernama “memandikan Buddha” yang bisa dilakukan. Upacara ini adalah prosesi menyiramkan air ke pundak Buddha untuk mengingatkan orang-orang agar menjernihkan pikiran negatif, seperti keserakahan dan kebencian.

Di Indonesia, Hari Raya Waisak ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 3 tahun 1983 tanggal 19 Januari 1983.

Perayaan hari Waisak di Indonesia secara tradisional dipusatkan secara nasional di komplek Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Rangkaian perayaan Waisak nasional secara pokok adalah:

1. Pengambilan air berkat dari mata air (umbul) Jumprit di Kabupaten Temanggung dan penyalaan obor menggunakan sumber api abadi Mrapen, Kabupaten Grobogan.

2. Ritual “Pindapatta”, suatu ritual pemberian dana makanan kepada para bhikkhu/ biksu oleh masyarakat (umat), untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat guna melakukan kebajikan.
3. Samadhi pada detik-detik puncak bulan purnama. Penentuan bulan purnama ini adalah berdasarkan perhitungan falak, sehingga puncak purnama dapat terjadi pada siang hari.

4. Selain tiga upacara pokok tadi dilakukan pula pradaksina, pawai, serta acara kesenian.

Itulah sejarah perayaan Waisak, salah satu hari suci bagi umat Buddha sebagai bagian dari pengingat untuk refleksi diri.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Waisak